BANTUL – Sejumlah alumni IKIP Negeri Jogjakarta angkatan 1979 mengadakan pameran seni rupa di Tembi Rumah Budaya, Sewon Bantul. Pameran bertajuk Bali Ngasal ini digelar berbarengan dengan acara reuni lulusan kampus yang kini dinamai UNY.Belasan lukisan dan tiga buah keramik dipamerkan di ruang pamer Tembi Rumah Budaya hingga 26 Februari mendatang. Pameran ini tak sekedar jadi ajang pamer karya belaka. Mereka memanfaatkan ajang tersebut sebagai penyambung silaturahmi.Ketua pameran, Cho Chro Tri Laksono mengungkapkan, persiapan pameran ini disusun lama. Selain mencari format yang tepat, juga menentukan waktu luang para alumni agar bisa berkumpul kembali.”Kalau sekedar kumpul, biasa rasanya ada yang kurang. Dari situ, konsep reunian ini kita konsep berbeda. Kumpul bersama sekaligus berpameran bersama,” jelas seniman kelahiran Solo 31 Maret 1958.Selain Tri Laksono, turut juga para pelukis. Di antaranya, Bamabang Hermanto, Bambang Purwowidodo, Subandi Giyanto, Bernas W. Widarti, Supriyanto, Saiful Yatim, Suharko Sri Raharjo, dan Rismaryanto. Sedangkan keramik merupakan karya dari Taufik Eko Yanto.Pameran ini sangat unik, di mana setiap alumni memiliki karakater berbeda-beda. Meski begitu, lanjut Tri Laksono, justru menjadi warna bagi pameran. Di sisi lain, juga untuk menghidupkan tema yang diusung.Tema Bali Ngasal dipilih, karena beberapa alumni setelah lulus tersebar di berbagai penjuru Indonesia. Menurutnya, beberapa ada yang tetap berkarya, namun ada yang sekedar sambilan.”Sesuai artinya Bali Ngasal, adalah kembali ke asal. Jogjakarta bagi kami sangatlah istimewa, di mana kami dilahirkan di sini. Segala ilmu, persahabatan benar-benar membentuk seperti apa kami saat ini. Tentunya juga mengenang kebersamaan angkatan 79 saat berpameran dulu,” tegas Tri Laksono.Karya-karya yang dipamerkan mencuri perhatian pengunjung yang hadir. Seperti karya Supriyanto yang menonjolkan sisi human interest. Dalam karyanya, Supriyanto mengangkat kisah perjuangan rakyat kecil dalam menjalani hidup.”Baik itu karya yang berjudul Penjual Kambing, Tukang Sepatu, dan Buruh Gendong merupakan potret kehidupan rakyat. Membuka jendela mata sisi kehidupan melalui lukisan menjadi misi dalam melukis,” ungkap Supriyanto.Lain halnya dengan Taufik Eko Yanto yang memamerkan kesenian keramik. Teknik yang diusung dalam berkarya cukup unik. Yaitu, teknik Raku. Teknik itu merupakan proses pembuatan keramik dengan proses reduksi.Teknik berbeda dengan teknik pembakaran biasa, di mana ada perubahan suhu tinggi secara tiba-tiba. Alhasil keramik yang dihadilkan akan memiliki efek artistik tinggi. Teknik ini juga mengedepankan ketahanan keramik saat proses pembakaran.”Dalam terjemahan sendiri, Raku berarti enjoyment atau kenikmatan dan kesenangan. Teknik ini merupakan kesenangan tak terbatas. Bahkan teknik ini sering diposisikan sebagai karya keramik yang lebih tinggi dari keramik yangf lain,” imbuh Taufik.(dwi/hes)