Kunjungan Wali Kota Ir. H. Sigit Widyonindito dengan sejumlah kepala SKPD ke Gunung Tidar mengundang banyak pertanyaan. Karena kegiatan bertajuk olahraga bersama tertunda lima hari tersebut, dilaksanakan di hari efektif, yakni Rabu (19/2). Padahal, wali kota memiliki jadwal pemaparan LKPJ. Terpaksa, wali kota mengubah jadwal pemaparan pada malam hari, dengan alasan para SKPD sibuk.
Frietqi Suryawan, Magelang
Tepat pukul 06.30. Puluhan mobil berplat nomor merah terparkir di bekas Terminal Tidar Lama, Jalan Ikhlas. Dengan berkaos olah raga, para penumpangnya bergerak ke Lapangan Parkir Gunung Tidar di Kampung Barakan, Magersari. Tak berapa lama, datang Wali Kota Sigit Widyonindito beserta istrinya, Yetti Biakti dan ketiga anaknya. Yaitu, Aji, Atik, dan Agung. Di tempat itu, mereka membagikan nasi dos pada warga setempat.
“Tadi Ibu Sigit telah pesan ke Mbak Sari (ajudan, Red) agar disediakan 200 dos nasi. 100 dos dibagikan di bawah. Sedangkan 100 dos lagi dimakan bersama-sama di sini (Puncak Gunung Tidar, Red). Tetapi itu sepertinya kok kurang,” kata Sigit mengawali sambutan.
Usai membagikan makanan dos, rombongan menaiki tangga-tangga yang agak licin, habis diguyur hujan air dan hujan debu. Akhirnya, rombongan tiba di dekat Makam Syeh Subakir, beberapa meter sebelum puncak.
Rombongan sempat beristirahat sebentar. Sementara, wali kota dan keluarga berdoa di luar kompleks makam tokoh siar Islam di Tanah Jawa tersebut.
“Juru Kuncinya belum bangun, sehingga tidak bisa mengantar kami,” ungkap pria yang pernah menjabat kepala DPU Kota Magelang ini.
Perjalanan dilanjutkan ke Puncak Gunung Tidar, yang berjarak 300-an meter dari makam. Di Puncak Gunung Tidar yang terdapat tugu bersimbol huruf Sa, dalam tulisan Jawa pada tiga sisinya. Ini memiliki makna “Sapa Salah Seleh” (Siapa Salah Ketahuan Salahnya, Red).
Di sini, para pejabat menikmati jajanan pasar yang diletakkan di atas tampah kecil. Setelah beristirahat cukup, Sigit memberikan sambutan yang isinya seputar rencana membangun Gunung Tidar sebagai destinasi wisata baru.
“Kami segera merubah kawasan ini menjadi destinasi wisata baru. Komisi V DPR RI juga menyatakan akan memberikan bantuan sekitar Rp 2,5 miliar untuk merealisasikannya,” katanya.
Tidak hanya itu, Sigit mengajak semua pihak mau berkunjung ke Gunung Tidar bersama keluarga. Selain alamnya yang masih asri, ada beberapa makam tokoh siar Islam. Seperti Syeh Subakir, Kiai Sepanjang, Eyang Semar, dan lainnya.
“Jadi, nantinya tidak melulu wisatawan berkunjung ke Taman Kyai Langgeng (TKL) atau pusat kota saja, karena di sini juga ada destinasi wisata yang lain,” tambahnya.
Di akhir sambutannya, Sigit mengaku membawa tumpeng ke gunung yang dikenal sebagai pakunya tanah Jawa tersebut. Ia mengungkapkan, dirinya tengah berulang tahun perkawinan yang ke-25. Tidak lupa, Sigit mengenalkan anggota keluarganya, termasuk Aji Setiawan yang maju pada pemilu legislatif (pileg) pada 9 April 2014.
Sesudah itu, tumpeng berisi nasi kuning dengan abon, kering tempe, peyek kacang dipotong. Potongan tumpeng diberikan pada Yetti, sembari mendaratkan ciuman sayang di kedua pipi.
“Saya mau memberikan kejutan. Tepat hari ini, kami berulang tahun perkawinan yang ke-25. Makanya, saya bawa tumpeng,” akunya.
Sebelumnya, pada Jumat Wage (14/2), wali kota berencana naik gunung dan mengajak para pimpinan SKPD. Rencana itu dibatalkan sehari sebelumnya, karena hujan abu yang cukup besar di Kota Magelang.
Di tempat terpisah, Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Magelang, Mahfudin Cakra Saputra SH pernah meminta pemkot bekerja sama menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik. Caranya, mau memberi data dan terbuka dengan segala informasi publik yang dipunyai. Terutama, adanya penyelidikan terhadap dugaan kerugian negara dalam pembangunan kembali Pasar Rejowinangun.
“Kalau sudah ada dik (penyelidikan, Red) soal Pasar Rejowinangun, harusnya mau terbuka dan memberikan data yang dibutuhkan. Bukan malah naik Gunung Tidar,” sindirnya saat itu, sembari tersenyum.(*/hes)