Keterbatasan infrastruktur bukan alasan penghambat bagi pengembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Itu juga yang ingin dibuktikan Wardani, 45, warga Dusun Tulung, Srihardono, Pundong. Dia konsisten memproduksi mi desa atau mides
ZAKKI MUBAROK, Pundong
Kemarin (19/2) sebagaimana hari-hari biasanya, lima orang memenuhi rumah Wardani bagian samping kanan. Mereka semua satu keluarga. Lima orang tersebut tengah sibuk mengolah sekaligus mempersiapkan salah satu jenis makanan untuk dijual kepada para pedagang. “Saya, istri, kedua orang tua, kemudian ipar,” ucap Wardani memulai pembicaraan.Ya, sejak 25 tahun silam keluarga Wardani telah memulai usaha pembuatan mi desa (mides). Waktu itu ayah Wardani bernama Suparjan yang merintisnya. Seiring waktu berjalan, usaha kecil-kecilan tersebut masih bertahan. Meskipun berbagai produk mi instan terus menggempur pasar dengan beragam produk unggulannya.Pada 2006 silam pengolahan mides ini sempat berhenti beroperasi. Rumah Wardani ambruk bersama ribuan rumah lainnya saat gempa bumi 2006 meluluhlantahkan sebagian wilayah Bantul. “Ya rumah ini bagian dari sisa-sisa gempa dulu,” kenangnya.Di ruangan berukuran 4,5 meter kali 4,5 meter usaha pengolahan mides bergulir. Memang tak terlalu besar. Bagaimana tidak, di ruangan sesempit itu Wardani menyimpan tumpukan karung berisi bahan baku tepung. Sementara sampingnya dijadikan tempat pengolahan mides yang sehari-hari dipasarkan ke pasar Pundong, dan pasar Imogiri ini. Pemisah kedua ruangan bukanlah tembok, melainkan hanya gedek setinggi dada manusia dewasa. “Memang sangat sederhana tempatnya. Tapi ya tetap harus jalan,” jelas bapak dua anak ini.Suami Sugiyanti ini menyadari kondisi tempat pengolahan mides miliknya jauh dari patokan ideal. Karena itu, dia sempat berharap pemerintah memberikan bantuan. Harapannya, bantuan materi dari pemerintah dapat digunakan untuk memugar sekaligus memperluas ruangan. Hanya, sebagai orang awam Wardani mengaku tak mengetahui bagaimana caranya mengajukan bantuan kepada pemerintah.”Nggak ada yang memberikan pendampingan. Yang namanya proposal (pengajuan bantuan) saja kita belum pernah lihat,” tuturnya lugu.Padahal, Wardani bercerita, dia berulangkali mendapatkan undangan menghadiri berbagai forum perlombaan pengembangan UMKM. Ketika itu dia mewakili lembaga keuangan desa (LKD) karena dinilai berhasil mengembangkan pengolahan mides. “Mewakili Bantul pernah. Bahkan, mewakili Jogjakarta di tingkat nasional juga pernah,” ungkapnya.Tak hanya itu. Rumahnya yang sekaligus sebagai tempat pengolahan mides juga berulangkali menerima berbagai kunjungan instansi pemerintah. Staf dan pejabat Dinas Pertanian tersebut ingin melihat proses pengolahan mides dari dekat. “Kemudian kelompok-kelompok usaha dari luar juga sering. Tetapi saya lupa mereka dari dinas pertanian atau kelompok mana,” ujarnya.Setiap hari Wardani mampu mengolah tepung tapioka sebanyak 70 hingga 80 kilogram. Selain mides, dia belakangan juga membuat inovasi dengan mengolah mi pentil. Bahan baku kedua jenis mii tersebut sama. Pembedanya terletak pada bentuk dan warnanya.Kepada para pedagang Wardani menjual mi hasil olahannya dengan dua pilihan. Yakni, matang, dan mentah. “Mi pentil kami jual Rp 8 ribu per kilogramnya. Sedangkan mides Rp 10 ribu. Ini yang mentah,” urainya.Untuk menjaga kualitas, Wardani tidak menggunakan bahan baku kimia. Semuanya serba alami. Misalnya pewarna. Wardani menggunakan pewarna khusus makanan. Tetapi tak jarang Wardani memanfaatkan pewarna alami. Itu terjadi jika ada pemesan yang menginginkan mides maupun mi pentil yang serbaalami. Itu sebabnya, kedua jenis mi ini hanya mampu bertahan maksimal selama 24 jam. “Kalau kuning ya kita gunakan kunyit. Mi yang kami jual ke pasar Imogiri bungkusnya pakai daun pisang atau jati,” ulasnya.Dalam sebulan, Wardani sekeluarga mampu mendapatkan keuntungan bersih hingga Rp 1,5 juta. Dia berharap pengolahan mi mampu bertahan lebih lama. “Kalau bisa kami ingin usaha ini berkembang lebih besar lagi,” harapnya. (*/din)