• Masuk Kawasan Candi Prambanan Sampai Zona II
PRAMBANAN– Setelah tutup lima hari akibat terkena abu vulkanis Gunung Kelud, kawasan Candi Prambanan dibuka lagi bagi wisatawan mulai kemarin (19/2). Meskipun sudah dibuka, namun di beberapa lokasi di kompleks candi masih banyak abu.
Guna menarik pengunjung, pihak PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko selaku pengelola memberikan diskon khusus bagi pengunjung. Yakni potongan harga 30 persen dari tarif tiket resmi. Alasannya, ada pembatasan area kunjungan.
Wisatawan hanya diperbolehkan sampai zona II bagian dalam. Artinya, pengunjung hanya bisa menyaksikan kemegahan Candi Syiwa, Wisnu, dan Brahma dari jarak sekitar 25 meter. Itu semata-mata demi keselamatan dan kenyamanan para pengunjung. Sebab, sejak diguyur abu vulkanis pada Jumat (14/2), proses pembersihan dan recovery candi yang merupakan world heritage tersebut belum rampung.
“Kami mohon maaf dan berharap masyarakat maklum. Ini kejadian alam bukan kehendak manusia,” ungkap Direktur Operasi Retno Hardiasiwi kemarin (19/2).
Menurut Retno, pembatasan akses di area wisata akan diperluas secara berangsur hingga zona I setelah ada lampu hijau dari Balai Peninggalan Cagar Budaya (BPCB). Karena itu, pihak pengelola Candi Prambanan memberikan diskon bagi pengunjung. Dari yang seharusnya Rp 30 ribu menjadi Rp 20 ribu untuk pengunjung dewasa domestic di Candi Borobudur atau Prambanan. Sedangkan di Ratu Boko, tarif menjadi Rp 15 ribu.
Sementara untuk pengunjung anak-anak di bawah enam tahun Rp 9 ribu, dan Ratu Boko Rp 7 ribu. Potongan harga juga berlaku bagi wisatawan asing. Untuk Candi Borobudur menjadi 13 dolar AS, Candi Prambanan 12 dolar AS, dan Ratu Boko 9 dolar AS. “Ketentuan ini berlaku sampai kawasan wisata candi dibuka penuh,” jelas Retno.
Direktur Pemasaran Ricky Siahaan mengingatkan agar para pengunjung menaati peraturan tentang batas-batas yang ditentukan pengelola. Itu sebagai bagian rasa saling memiliki benda cagar budaya peninggalan nenek moyang tersebut.
Penutupan lima hari diakui Ricky berdampak pada pemasukan keuangan bagi pengelola. Namun itu bukan hal utama. Menurut dia, pengelola fokus pada dua aspek. Yakni recovery candi dan menghidupkan kembali perekonomian rakyat. Dalam hal ini kehidupan penyokong wisata, yakni para pedagang cinderamata dan oleh-oleh. Mereka memiliki ketergantungan pada tingkat kunjungan wisata. “Kasihan mereka. Kalau candi tutup, otomatis pedagang tidak jualan,” ujarnya.
Di kawasan Candi Prambanan ada sekitar 200 pedagang, sedangkan di Candi Borobudur diperkirakan lebih dari seribu orang. “Kami memang belum hitung kerugian secara material. Yang penting bisa segera buka agar perekonomian rakyat pulih kembali,” lanjut Ricky. (yog/din)
Recovery Candi Butuh Tiga Bulan
Langkah BPCB Jogjakarta mensterilkan zona I kawasan Candi Prabambanan bukan tanpa alasan. Petugas Pokja Perlindungan Muhammad Taufik menuturkan, abu vulkanis mengandung banyak unsur yang bisa menyebabkan keasaman batu candi.
Dari hasil uji laboratorium, keasaman batu Candi Prambanan relatif normal dengan Ph 6. Meskipun batas normal sesungguhnya Ph 7. “Jika batu terlalu asam lama-lama bisa keropos karena korosi,” jelasnya.
Meski tingkat keasaman normal, kandungan lain bisa membahayakan pengunjung jika abu terhirup ke dalam tubuh. Di antaranya silica, yang mencapai 70 persen. Lalu ada besi (Fe), Magnesium (Mg), Calsium (Ca), dan Aluminium (Al) dan SUlfat (SO4).
Taufik memperkirakan, candi benar-benar bersih sekitar 2-3 bulan lagi. Sebab, pembersihan candi tak bisa hanya mengandalkan hujan deras. Tanpa disikat, abu tetap tidak bisa hilang.
Lamanya perkiraan waktu recovery lantaran pembersihan candi dilakukan secara manual dengan alat seadanya. Berupa sapu dan kuas. Itupun, petugas tak bisa sembarangan memanjat. Mereka harus memasang semacam tangga darurat berupa pasangan besi, yang seperti digunakan dalam proyek pembangunan gedung bertingkat. Itu harus dilakukan berulang di keempat sisi candi. Sedangkan candi yang harus dibersihkan mencapai puluhan unit. “Kalau bisa selesai lebih cepat, maka zona I bisa dibuka lebih cepat pula,” katanya.
Demi menjaga zona I tetap steril dari pengunjung, petugas BPCB menempatkan dua sekuriti (satpam) di pintu masuk dan keluar. Di depan pintu dipasang papan pengumuman batas area pengunjung.
Salah seorang pengunjung, Trisnawati, 34, mengaku tak mempermasalahkan ketentuan dari pengelola mengenai pembatasan akses wisata. “Tak jadi soal. Sampai sini (batas pengunjung) sudah cukup puas. Toh, demi keselamatan kami juga,” tutur wisatawan asal Jakarta itu usai berfoto bersama rombongannya.(yog/din)