Paguyuban Tegaskan Pemasangan Sekat Bersifat Sukarela
MAGELANG – Paguyuban pedagang Pasar Rejowinangun dan perwakilan pedagang menyesalkan komentar kalangan DPRD Kota Magelang, soal tudingan pemaksaan biaya sekat. Paguyuban pedagang menilai, upaya pemasangan sekat murni tawaran dan bersifat sukarela.Koordinator Perwakilan Pedagang Rejowinangun (PPRM) Nasirudin Hadi mengatakan, sebelum melaksanakan proses penyekatan, terlebih dahulu menggelar koordinasi dengan Dinas Pengelola Pasar (DPP) Kota Magelang. “Kaitannya, penyekatan ini diserahkan tendertidaklah tepat. Kami melakukan proses tawar-menawar langsung sesuai spek dengan penghitungan melibatkan Pemkot Magelang. Antara paguyuban, pemerintah, dan perwakilan pedagang juga sudah tercipta kata sepakat,” kata Nasir, kemarin (19/2).Dijelaskan, pemasangan sekat ada dua jenis yang dipakai. Antara lain folding dan rolling. Harga kedua jenis tersebut nyaris sama. Hanya, ada perbedaan karena jenis folding harganya lebih mahal, antara Rp 350 ribu-Rp 400 ribu per meter persegi. Sedangkan untuk rolling, harganya mencapai Rp 325 ribu per meter persegi.Disepakati, antara pedagang dengan pemborong untuk penghitungan biaya penyekatan menggunakan ukuran meter persegi. Rata-rata, setiap los membutuhkan 8,2 meter persegi. Sedangkan penggunaan bahan materialnya, baik folding dan rolling sekat menggunakan GRC dan besi hollow.”Harganya standar. Jika ditotal untuk biaya pengadaan bahan material saja mencapai Rp 3,7 juta. Jadi, tidak mungkin kalau harganya bisa dikerucutkan jadi Rp 3,5 juta. Untuk ongkos pembuatan, kami menentukan Rp 800 ribu,” ungkap Nasir, didampingi Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Rejowinangun (P3RM), Heri Setiawan.Harga yang dipatok mencapai Rp 5 juta untuk total konstruksi ditambah instalasi tersebut. Ini bisa berubah tergantung dari keinginan pedagang. Misal, jika pedagang menghendaki penambahan pintu, otomatis mempengaruhi pembiayaannya. “Jadi yang dikemukan Pak Eddy (Eddy Sutrisno, anggota Komisi C DPRD Kota Magelang, Red) menyatakan 90 persen pedagang keberatan, itu jelas salah. Dia hanya tanya pada 10 pedagang,” paparnya.Nasir merincikan bahan material tersebut, di antaranya GRC sembilan buah dengan harga Rp 115 per lembar. Kebutuhan hollow sebanyak 30 lonjor dengan biaya Rp 20 ribu per lonjor. Biaya folding sebesar Rp 375 ribu per meter persegi dan rata-rata los membutuhkan 6,6 meter persegi.Sedangkan rolling, imbuh Nasir, biayanya Rp 325-Rp 350 ribu. Penghitungannya, 7,8 meter persegi per los. “Itu bahan-bahannya saja. Kalau ditambah ongkos pembuatan, sekitar 25 persen dari total bahan tersebut. Saat ini, yang sudah memesan proses penyekatan ada 700 pedagang atau 60 persen dari total pedagang,” jelasnya.Nasir berkali-kali menyatakan, mekanisme penyekatan sifatnyasukarela. Sehingga, tidak ada unsur pemaksaan pada persoalan ini. “Saya tidak ngoyak-oyak dan tidak memaksa. Kalau pedagang mau rolling datang ke Pak Heri. Sedangkan yang mau folding sama saya. Yang tidak mau buat, juga tidak apa-apa. Ini khusus yang butuh saja,” tegasnya.Penggunaan jenis material ini tidak lepas dari saran DPP untuk menggunakan jenis tahan api. Pihaknya mengklaim, dengan desain penyekatan dari pemkot berikut hasil analisa pembiayaan, proses penyekatan, baik folding maupun rolling membutuhkan biaya Rp 7 juta untuk satu pintu. “Kami ambil yang termurah. Khusus folding, pembiayaan bisa dua per tiga dulu. Nanti setelah kunci saya berikan, baru dilunasi,” katanya.(dem/hes)