SLEMAN – Pengembangan investasi kekayaan bumi dan gas di Indonesia dinilai masih dalam tahap pembangunan. Masih butuh perjuangan sangat keras untuk menjadinya sebagai sebuah eksplorasi titik bumi dan gas. Ada sejumlah kendala yang dihadapi. Di antaranya, dana yang dibutuhkan besar dan kelengkapan data.
Hal itu disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Johannes Widjonarko dalam Plenary Discussion OGIP 2014 di Mustika Room Hotel Sheraton Jogjakarta Sabtu (22/2). Dia menambahkan, Indonesia masih dihadapkan sebuah problematika pengolahan migas.
Besarnya investasi, kata dia, diduga masih menjadi kendala untuk pengolahan sebuah titik. Alhasil selama ini dana investasi yang tersedia hanya digunakan untuk sebatas pembangunan.
“Subsidi investasi pun lebih cenderung digunakan untuk pengolahan data lapangan. Data merupakan faktor terpenting dalam eksplorasi migas. Jika tidak valid tentunya risiko kegagalan eksplorasi juga akan lebih tinggi,” kata Widjonarko.
Maka dari itu, Wijdonarko melalui SKK Migas telah melakukan pengumpulan data-data eksplorasi. Data-data itu nantinya untuk menguatkan sebuah eksplorasi migas di Indonesia. “Pengumpulan data ini bisa mengurangi risiko kegagalan,” tegasnya.
Widjonarko juga menyinggung konversi dari minyak ke gas yang dinilainya saat ini sudah berjalan cukup baik. Sebagai pengganti minyak, gas sangat tepat digunakan di rumah tangga.
Selain itu, pemanfaatan gas pun bisa merambah sektor moda transportasi. Tapi, pemanfaatan perlu ada fasillitas berupa kantong pengisian bahan bakar gas yang tersertifikasi. Ini dibutuhkan agar tidak terjadi kelangkaan bahan bakar gas di suatu daerah.
“Jikalau semua daerah bisa memanfaatkan konversi ini tentunya akan menghemat pengeluaran negara. Tapi harus ada kewajiban membangun fasilitas yang mewadahi. Seperti dispenser gas di tempat yang terjangkau,” kata Widjonarko.
Saat ini, kata dia, daerah yang telah memanfaatkan bahan bakar gas baru Jakarta dan Surabaya. Daerah lain, lanjutnya, sedang dalam masa pengenalan program. “Untuk proses ini perlu ada pengetahuan dan edukasi kepada masyarakat,” terangnya.
Edukasi transfer energi ini dinilai penting dengan berkaca pada jangka awal konversi minyak ke gas. Widijonarko mencontohkan awal konversi terjadi penolakan dari masyarakat. Sebab, banyak tabung berisi gas yang meledak. Padahal, kata dia, ledakan yang terjadi bukan sepenuhnya kesalahan dari perangkat tabung gas.
Untuk itu, edukasi transfer teknologi ke masyarakat sangat penting. Tujuannya untuk memberikan pengetahuan semaksimal mungkin agar dapat melawan risiko dari konversi bahan bakar minyak ke gas.
“Juga tetap melihat pangsa pasar peminat bahan bakar gas. Jangan sampai bertepuk sebelah tangan. Untuk Indonesia, pengembangan energi masih dilakukan, termasuk nuklir. Tapi untuk yang terakhir ini masih sebatas wacana, jauh melihat dampak ke depannya,” kata Widjonarko. (dwi/amd)