Rumah wartawan Jawa Pos Radar Jogja Frietqi Suryawan, 40, di Kampung Jagoan 3, Jurangombo Utara, Magelang Selatan, Kota Magelang mendadak ramai, pascateror bom molotov yang dilakukan Senin (24/2) dini hari. Rumah yang berada di samping masjid tersebut mendadak banyak tamu. Tetangga, mahasiswa, rekan seprofesi, anggota dewan, hingga wali kota mendatangi rumah tersebut. Mereka datang memberi dukungan moril.
ADI DAYA PERDANA, Magelang
Tangan Frietqi Suryawan terlihat memegang dua handphone. Sesekali, kedua handphone gantian berdering. Banyak dari telepon yang masuk menanyakan kondisi keluarga pria yang akrab disapa Demang, usai diteror.Di antara obrolan via telepon yang terdengar, Demang ditanyai soal peristiwa pelemparan tiga bom molotov ke rumahnya. Beberapa dari telepon yang masuk, datang dari wartawan yang ingin mengetahui detail peristiwa itu.”Ditelepon dari wartawan KBRI (Kantor Berita Antara, Red),” kata Demang usai menutup pembicaraan telepon, kemarin (24/2).Tidak berapa lama, tamu lain berdatangan. Mereka silih berganti mengunjungi bapak empat ini. Mereka hadir menunjukkan kepedulian pada Demang yang baru diteror.”Seperti ini sudah biasa. Semoga orangnya segera sadar,” kata Demang singkat.Hingga sore hari, tamu terus berdatangan. Tidak hanya dari sesama wartawan yang datang menyampaikan dukungan moril. Beberapa mahasiswa yang tergabung dalam Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Tidar 21 Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang juga bersimpati hadir. Mereka ikut membersihkan sisa-sisa serpihan yang berserakan di teras rumahnya.”Kami prihatin dengan aksi teror yang menimpa kawan jurnalis. Mestinya, ini tidak perlu terjadi di Kota Magelang,” kata Ketua Umum LPM Tidar 21, Eko Bayu Pambudi.Pria yang akrab disapa Ubay ini menyesalkan aksi teror di Magelang. Dia menilai aksi teror bom molotov ini menampar kinerja kepolisian. Apalagi aksi teror menimpa seorang wartawan yang notabene kinerjanya dilindungi undang-undang. “Kami berharap kepolisian bisa memberikan rasa aman bagi warganya. Apalagi terhadap wartawan,” tegasnya.Harapan Ubay bukan tanpa alasan. Dari berbagai aksi teror di Kota Magelang, belum ada kejelasan pengungkapkan kasusnya. Sebut saja aksi teror bom molotov yang menimpa rumah anggota Komisi C DPRD Kota Magelang Edi Sutrisno dan aksi teror pada aktivis LSM Abdraman.”Belum lagi aksi perampokan yang menimpa karyawan SPBU, beberapa waktu lalu. Semua itu mestinya menjadi pembelajaran bagi kepolisian,” kritiknya.Ia berharap kepolisian segera mengusut tuntas kasus-kasus yang meresahkan masyarakat. Sehingga aksi teror tidak menjadi hal biasa di Kota Magelang.”Pada Hari Pers Nasional pada awal Febuari, kami sudah me-warning kepolisian. Jangan sampai kasus kekerasan terulang kembali. Tapi, mengapa malah di Magelang bisa terjadi kepada wartawan,” kata Ubay.Selain berharap pada kepolisian, Ubay ingin aksi teror tidak mempengaruhi niat para wartawan menyampaikan hal-hal yang kritis.”Jangan sampai adanya aksi teror pada wartawan membuat niat wartawan menurun dalam menyampaikan kepentingan masyarakat secara luas,” imbuhnya.Selain para mahasiswa, Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito, Ketua DPRD HasanSuryoyudho juga menyempatkan datang. Baik Hasan maupun Sigit menyayangkan kejadian pelemparan molotov di rumah salah seorang wartawan di Kota Magelang.Menurut Sigit, selama ini keamanan Kota Magelang dikatakan terjaga dengan baik. “Ya, sangat disayangkan peristiwa seperti ini bisa terjadi. Selama ini, Kota Magelang terbilang kondusif,” kata Sigit yang menyesalkan kejadian itu.Orang nomor satu di Kota Sejuta Bunga ini enggan berkomentar, saat ditanyai soal dugaan motif dan aksi pelemparan bom molotov tersebut. Untuk penyelesaian kasus ini, Sigit menyerahkan sepenuhnya pada aparat yang berwenang. “Saya tidak bisa bilang apa-apa, apalagi terkait motif. Sudah ada yang menangani sendiri, yaitu polisi,” katanya singkat.(*/hes)