Rumah Wartawan Radar Jogja Diteror Molotov
MAGELANG– Kasus teror berupa pelemparan bom molotov ke rumah wartawan Radar Jogja Frietqi Suryawan mendapatkan perhatian khusus dari Kapolres Magelang Kota AKBP Tommy Aria Dwianto.
Tak berapa lama setelah kejadian, polisi langsung menyelidiki perkara tersebut. Tiga orang saksi yang terdiri Frietqi dan dua tetangganya telah dimintai keterangan.
“Kami serius menangani kasus ini. Kami tidak akan mentoleransi bila nantinya penyelidikan sudah merujuk pada indentitas pelaku,” tegas Kapolres kemarin (24/2).
Dugaan sementara, lanjut Tommy, korban mengaku diteror oleh orang tak dikenal terkait pemberitaan seputar dugaan korupsi dalam pembangunan Pasar Rejowinangun Kota Magelang.
Namun, informasi ini akan didalami lebih lanjut. Kasus Pasar Rejowinangun saat ini sedang dibidik Kejari Magelang. Selama beberapa pekan Radar Jogja kerap menurunkan berita yang ditulis pria asal Pemalang tersebut.
Dalam berita itu terungkap adanya potensi kerugian keuangan negara di balik proyek tersebut. Kejaksaan mengendus bau tak sedap itu.
“Secara pribadi saya merasa tidak punya musuh. Saya sangat yakin (teror) ini terkait dengan pemberitaan. Saya berharap kasus ini segera terungkap agar tidak menimbulkan fitnah,” harap pria yang akrab disapa Demang ini.
Teror yang menimpa rumah Demang itu juga menjadi perhatian Ketua PWI Cabang Jogja Sihono Harto Taruno. Ia mendesak polisi secepatnya mengungkap kasus tersebut.
“Jika terkait pemberitaan, bisa diselesaikan di Dewan Pers. Bukan lantas main hakim sendiri,” sesalnya.
Sihono mengungkapkan, aksi teror itu, merupakan bentu intimidasi terhadap wartawan. Padahal, kerja-kerja wartawan dijamin dan dilindungi UU No 40/1999 tentang Pers.
“Polisi harus mengusut tuntas. Karena ini mengancam keamanan dan kenyamanan kerja wartawan,” desak Sihono.
Menyikapi itu, PWI tengah menyiapkan aksi moral. Aksi tersebut juga sebagai dukungan kepada Polres Magelang Kota agar segera menuntaskan pengusutan kasus tersebut.
“Siapa pun pelakunya harus terungkap,” desaknya.
Solidaritas Wartawan Anti Kekerasan Jogja (Sowak) turut mengecam pelemparan bom molotov itu. Sowak tak ingin kasus kekerasan yang menimpa wartawan Harian Bernas Fuad Muhammad Syafruddin atau Udin yang terjadi 17 tahun lalu, terulang kembali.
Sekretaris Sowak Agung PW menyatakan, telah menyiapkan aksi keprihatinan terkait tindakan intimidasi terhadap wartawan. ” Soal waktunya, kami masih koordinasikan dengan teman-teman lain,” kata wartawan Suara Merdeka ini.
Kasus pelemparan bom molotov itu terjadi pada Senin dinihari (24/2) sekitar pukul 02.00. Rumah Demang yang berada di Jalan Jagoan 3 No 267, Jurangombo, Kota Magelang diketahui dilempar tiga buah bom molotov.
Dua molotov yang dilempar ke jendela depan rumah sempat meledak dan membakar tembok dan kursi. Sedangkan satunya lagi dilempar ke mobil yang terparkir di sebelah rumah. Namun satu molotiv itu hanya menyala, alias tidak sempat meledak.
“Kami sempat memadamkam molotov yang meledak di dekat jendela. Untung bisa cepat padamkan sehingga tidak merembet,” ujar Sulasmi tetangga korban kemarin.
Saat kejadian itu Demang tengah berada di dalam rumah. Ia sedang bersiap tidur di kamar depan. Mendadak, ia dikagetkan bunyi benda keras yang dilempar ke teras rumahnya sebanyak dua kali. Kemudian terdengar teriakan yang diikuti dengan adanya orang lari.
“Setelah ada teriakan, saya langsung keluar dan melihat ada dua orang berboncengan berusaha melarikan diri,” kata Demang.
Melihat kejadian itu, Demang sengaja tak mengejar pelaku. Ia memilih memadamkan dua bom molotov yang sedang membakar kursi dan kardus di dekat jendela depan rumahnya.
“Satu bom ke arah mobil tidak meledak. Tetapi sumbunya terbakar. Mungkin karena kena tanah sehingga tidak meledak.
Khawatir meledak dan mengenai tangki bensin mobil, saya berusaha menjauhkan dengan menggunakan bambu yang kebetulan ada di dekat situ. Kemudian setelah dijauhkan, anak pertama saya, Omar, menguyurnya dengan air,” jelas bapak empat anak ini.
Usai memadamkan api, Demang mengambil kendaraannya untuk lapor ke Polsek Magelang Selatan. Saat keluar dari gang, dia sempat berpapasan dengan seseorang yang diduga salah seorang pelaku.
“Salah seorang pelaku saat itu hendak masuk gang. Pelaku kemudian melarikan diri ke arah selatan. Saya tidak berani mengejar karena situasinya tidak memungkinkan,” tuturnya.
Saksi mata yang sempat melihat kejadian, Agus S, menuturkan, sebelum kejadian ia melihat seseorang mengendarai motor Yamaha Jupiter warna hitam, datang dari arah timur. Pengemudi tersebut juga sempat berhenti sejenak di depan rumah Demang, lalu kembali ke arah timur.
Tak lama berselang, dari arah barat datang dua orang berboncengan menggunakan motor Honda Vario. Salah seorang dari mereka turun dari motor, lalu melemparkan tiga bom molotov ke teras rumah Demang.
“Yang melemparkan molotov badannya agak besar, pakai jaket hitam, dan helm penutup muka. Yang satu lagi badannya kecil, pakai helm, dan jaket juga,” terangnya.
Melihat itu, ia sempat berteriak dan mencoba mengejar dua orang tak dikenal tersebut. Namun kedua pelaku dengan cepat kabur ke arah timur, menuju Jalan Gatot Subroto. (ady/eri/kus)