WONOSARI – Kegiatan pra operasi Mantap Brata 2014 di Gedung Kesenian Wonosari diwarnai insiden marahnya Kasi Propam Polres Gunungkidul Iptu Wasdiyanto. Dia geram melihat anggotanya berada di angkringan, padahal acara segera dimulai.
“Niatmu ke sini untuk apa? Yang lain sudah kepanasan di dalam,” tegur Wasdiyanto kepada sejumlah anggota polisi yang tengah isi perut di salah satu angkringan tak jauh dari lokasi acara, kemarin.
Para personel polisi yang disemprot nampak gugup dan buru-buru menyelesaikan urusan pembayaran angkringan dan bergegas menuju lokasi acara. Tak hanya itu, Wasdiyanto kemudian kembali memburu personel lain jika masih didapati berada di luar gedung.
Berintoniasi tinggi, dia mengarahkan suara tegas kepada seorang anggota yang tengah berdiri di parkiran kendaraan pinggir jalan. Dengan nada sama, Wasdiyanto menanyakan maksud dan tujuan kenapa masih di luar dan tidak ikut masuk gedung.
“Catat semua anggota yang datang terlambat,” tegasnya meminta anggota propam lainnya menyiapkan absensi kehadiran.
Para jurnalis di lokasi kejadian hanya bisa saling pandang. Salah seorang wartawan, Lukas Didit menganggap langkah kasi propam menegur anggota sudah tepat. “Sama ketika zaman sekolah, jika kita tidak tertib pasti kena tegur,” ucap Didit.
Kapolres Gunungkidul AKPB Faried Zulkarnai mengungkapkan kesiapan polri jelang pemilu. Dia menjelaskan, H-1 petugas sudah mulai melakukan pengamanan di 1.898 tempat pemungutan suara (TPS).
“Polri melakukan pengamanan dengan pola 2-5-10. Artinya, dua polisi lima TPS dan dibantu 10 personel linmas,” kata Faried.
Menurut Faried, anggota polisi cukup melaksanakan pengamanan TPS sesuai surat perintah. Dalam pelaksanaan pengamanan pemungutan suara anggota polisi harus bersama tidak boleh berpisah.
“Polri harus mengamankan lingkungan, tidak boleh membantu KPPS (kelompok penyelenggara pemungutan suara) kecuali diminta langsung KPPS,” terangnya. (gun/iwa)
> ��lsP����al style=’text-indent:.5in’>Namun terkait mekanisme pengumpulan massa dalam kegiatan sosialisasi memang dukuh tidak boleh terlibat. Biarkan caleg atau tim sukses yang bersangkutan bergerak sendiri lalu dukuh hadir dalam kapasitas sebagai undangan.
Dia siap melakukan pembelaan bagi dukuh jika di antaranya terjerat pelanggaran pemilu. Langkah pertama dilakukan klarifikasi, kemudian mencari tahu bagaimana pokok masalahnya. “Namun jika ranahnya sudah hukum pidana, kami tidak bisa berbuat banyak,” katanya. (*/iwa)