• BCS Sempat Tertahan di Luar Stadion
SLEMAN– PSS Sleman gagal menampilkan permainan menawan kala menjamu Martapura FC dalam laga persahabatan di Maguwoharjo International Stadium (MIS) tadi malam.
Meskipun tampil di kandang lawan, Martapura FC justru lebih dominan dengan melepaskan lima kali tembakan ke arah gawang PSS Sleman yang dijaga Ali Barkah, berbanding empat yang dilakukan PSS. Pertandingan pun berakhir dengan skor 1-1.
Tim tamu unggul lebih dulu lewat gol Brima Pepito Sanusi pada menit ke-72. Beruntung PSS mampu membalas di injury time babak kedua lewat Saktiawan Sinaga. “Memang penampilan anak-anak tidak terlalu baik. Jujur saja masih banyak PR yang harus saya kerjakan untuk membuat tim ini kompetitif,” kata Pelatih PSS Sleman Sartono Anwar usai laga.
Kekurangan ini bagi Sartono akan menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan ke depan. Masih cukup waktu baginya untuk melakukannya. Itu termasuk dengan melakukan uji coba melawan klub-klub yang lain.
Di bagian lain, pemandangan kurang elok tersaji tadi malam. Tribun selatan yng biasa ditempati Brigatta Curva Sud (BCS) terlihat sangat sepi. Berdasarkan pengamatan Radar Jogja, sejatinya sebelum laga tidak ada yang aneh dari suporter yang identik dengan atribut berwarna hitam trsebut. Ya, mereka tetap berbondong-bondong datang se stadion untuk menyaksikan Super Elang Jawa (Super Elja) beraksi menghadapi Martapura FC.
Namun sesampainya di stadion, ternyata ada pihak yang menghadang mereka masuk. Akibatnya, mereka tertahan di luar.
Salah seorang personil BCS Okta, 24 tahun mengatakan dirinya sangat kecewa dengan adanya oknum-oknum yang menghadang kelompoknya untuk menyaksikkan PSS..
“Lha wong kami nonton juga bayar, kok malah dihalang-halangi untuk masuk. Jujur saja ini aneh, apa coba kepentingan orang-orang yang menghadang kami,” imbuhnya.
Untungnya, saat laga babak kedua berjalan, tribun selatan akhirnya dipadati penonton. Sejak saat itu BCS tidak henti-hentinya memberikan dukungan pada Anang Hadi dkk hingga pertandingan selesai.
Sesepuh BCS Tri murti Wahyu Wibowo membantah jika personilnya dihadang untuk masuk ke stadion. Menurutnya, kejadian itu merupakan aksi BCS menentang beberapa kebijakan panpel yang dianggap nyeleneh.
Salah satu kebijakan panpel yang diprotes adalah tidak diberikannya hak penjualan tiket untuk suporter. Menurut Wahyu BCS marah karena kebijakan tersebut tidak dikomunikasikan sebelum laga digelar.
“Saya membantah jika anak-anak dihadang. Mereka memang benar-benar protes. Itu dibuktikan dengan aksi mereka membelakangi lapangan ketika babak kedua belum dimulai,” katanya.(nes/din)