Yusuf Bilyarta Mangunwijaya atau dikenal sebagai Romo Mangun merupakan salah seorang tokoh di Jogjakarta. Meski telah lama tiada, semangatnya masih diwarisi para sahabatnya. Sebuah acara khusus, Gojegkustik Mangunwijaya, dihelat khusus untuk mengenang Romo Mangun.
DWI AGUS, Bantul
Rintik gerimis menyapa bumi Jogjakarta Senin malam (24/2). Hawa dingin terasa menyergap tubuh.
Di pendapa Tembi Rumah Budaya, Bantul, beberapa orang tampak larut dalam suasana guyub rukun. Ada belasan orang di sana. Tapi, nuansa guyub begitu terasa. Guyub tersebut mampu menghadirkan kehangatan di saat dingin malam itu.
Malam itu di sana dihelat Gojekustik Mangunwijaya. Acara ini digelar untuk mengenang Romo Mangun yang meninggal 10 Februari 1999.
Mengawali pagelaran, lagu Ayo Ngguyu yang dipopulerkan oleh Waldjinah terdengar mengalun merdu. Ragnala Coustic Band, yang membawakan lagu ini, terlihat antusias. Bahkan, penoton yang hadir di pendapat spontan ikut tertawa saat lirik “ayo ngguyu” dilantunkan.
Acara ini dikemas secara khusus oleh Yayasan Dinamika Edukasi Dasar bentukan Romo Mangun. Dua lukisan potret Romo Mangun tersaji di sisi kanan dan kiri panggung. Ada pula kolaborasi apik antara anekdot dengan musik akustik. Anekdot yang disampaiknya terkait kisah nyata keseharian Romo Mangun.
“Kisah-kisah lucu atau anekdot ini diambil dari Diary Wisdom of Mangunwijaya. Kisah ini sendiri terkumpul dari pengalaman para sahabat dan juga karyawan yang selama ini menemani Romo Mangun,” kata Nasarius Sudaryono, salah seorang pembaca naskah.
Selain Sudaryono, pembaca anekdot lainnya adalah Sri Hermandjoyo Joseph dan Totok Suryo Nugroho. Bertiga, mereka membawakan naskah-naskah anekdot dengan gaya baca masing-masing.
Untuk menghidupkan naskah anekdot tersebut, mereka berperan menjadi Romo Mangun. Gaya bicara yang khas, suara yang sedikit berat pun terlontar dari masing-masing pembaca. Sebut saja naskah yang berjudul lampu merah, pohon mangga, wafer, dan ayam goreng laundry.
“Kita ingin menyerap semangat dari Romo Mangun. Bahwa tidak selamanya hidup itu harus dilakoni dengan serius. Bahkan dalam kesehariannya Romo Mangun lebih sering bercanda dan ndagel. Meski begitu dalam setiap dagelan-nya tersimpan sebuah makna yang tersirat dan mampu dibuat sebagai pembelajaran,” kata Sudaryono.
Ada anekdot yang mengungkapkan Romo Mangun adalah sosok yang sangat ngeman dalam hal makanan. Misalkan, dalam naskah yang berjudul Wafer, yang bercerita tentang sekaleng wafer sajian untuk tamu.
Meski wafer yang disantap sudah memasuki masa kedaluwarsa, Romo Mangun tetap memakannya. Bahkan, wafer itu juga disajikan sebagai sajian kepada karyawan-karyawannya.
Dikenal sebagai sosok yang tegas dan disiplin, para karyawan tak kuasa menampik tawaran wafer yang disodorkan Romo Mangun. Mereka pun memakan wafer ini.
Ada pula naskah berjudul Bubur Lem. Naskah ini mengisahkan, suatu hari ada karyawan Romo Mangun yang diperintahkan membuat lem. Lem itu untuk memperbaiki SD Kanisius Mangunan.
Namun, lem yang terbuat dari tepung kanji itu masih tersisa banyak. Mengetahui hal ini, Romo Mangun memerintahkan karyawannya untuk memasak ulang lem ini.
Tapi, lem itu dimasak kembali dengan ditambahi bumbu dapur ala kadarnya. Nah, jadilah bubur lem khas Romo Mangun.
Para karyawan sempat ragu memakan bubur lem itu. Tapi, Romo Mangun justru lahap menyantap bubur lem tersebut.
Ada pula naskah Ayam Goreng Laundry yang bercerita tentang mengolah daging ayam. Daging ayam itu sebenarnya sudah tidak layak dikonsumsi. Daging ayam itu tetap diolah dan kemudian disantap.
“Kesederhanaan dan tidak ingin menyia-nyiakan apapun. Inilah yang menjadi ciri khas Romo Mangun. Beliau selalu berujar pada waktu itu paling ujung-ujungnya cuma sakit perut,” kenang Sudaryono.
Kisah berlanjut ketika Romo Mangun memasuki masa-masa di mana kesehatannya mulai menurun. Meski sosok yang disegani, Romo Mangun bukan orang yang rewel. Meski kondisi kesehatannya memburuk tapi dia tak ingin menyusahkan karyawannya.
Seperti yang diceritakan dalam naskah Gerilyawan Sakit. Ini menggambarkan awal Romo Mangun sakit.
Dia tidak gampang diajak berobat ke rumah sakit. Mungkin, itu tak lepas dari pengalaman hidupnya dalam militer. Bahkan, dia pernah ikut serangkaian perang gerilya. Termasuk aktif sebagai anggota Tentara Pelajar Brigade XVII dan menjabat komandan Tentara Pelajar Kompi Kedu saat agresi Militer Belanda 1947.
Saat sakit, Romo Mangun menolak ajakan karyawannya untuk dirawat di rumah sakit. Dia lebih memilih mengurung diri di dalam kamar.
Melihat karyawannya mulai gusar mengenai kesehatannya, Romo Mangun menghubungi sendiri Rumah Sakit Panti Rapih Jogja. Dia meminta dikirimkan ambulans untuk menjemput dan membawanya ke rumah sakit.
“Satu kalimat yang kami ingat dari Romo waktu itu adalah, ’Nek gerilyawan ki, nek nyerang yo ndelik-ndelik. Termasuk mlebu rumah sakit. Itulah kurang lebih yang dikatakan Romo kepada kami. Masih sempat bercanda (meski dalam keadaan sakit),” kenang Sudaryono.
Produser eksekutif acara ini, Engelina Prihaksiwi, mengungkapkan sengaja menghadirkan anekdot khas Romo Mangun untuk mengenang 15 tahun kepergiannya. Menurutnya, mengenang seseorang tak harus dilakukan dengan cara serius seperti mengadakan seminar.
Justru dengan dialektika anekdot, kata dia, bisa mencirikan sosok Romo Mangun yang sebenarnya. Termasuk bagaimana dia menjalin kedekatan dengan rakyat kecil. Mendengarkan keluh kesah hingga membangun sebuah solusi yang sangat tepat untuk meningkatkan kualitas hidu rakyat kecil.
“Berusaha mengembalikan candaan beliau sebagai bentuk komunikasi dengan rakyat kecil. Tidak hanya mengajar dengan ide besar tapi menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh rakyat kecil,” kata Ina, panggilan akrab Engelina Prihaksiwi.
Dalam kesempatan ini, Sudaryono mengingat sebuah pesan yang sempat diberikan Romo Mangun kepadanya. Waktu itu pertengahan 1998, dia diminta oleh Romo Mangun untuk menghubungi KH Abdurrahman Wahid, Amien Rais, dan beberapa tokoh lainnya.
Pertemuan para tokoh ini merupakan awal gerakan Reformasi 1998. Saat melaporkan untuk meminta arahan, Romo Mangun lebih memilih diam.
Dalam ingatan Sudaryono, Romo Mangun menyatakan waktu itu adalah masa generarasi muda. “Beliau juga berpesan bahwa kami kaum muda yang harus menentukan masa depan Indonesia. Beliau hanya berpesan bahwa generasi tua ada di belakang dan para anak muda lah yang harus menjawab perubahan ini. Inilah awal dari gerakan Reformasi 98 tersebut,” kata Sudaryono.
Mendekati 10 Februari 1999, Romo Mangun mulai memberikan beberapa pesan kepada para sahabat dan karyawannya. Salah satu pesan yang banyak paling diingat adalah ketika jangan ada yang bersedih ketia dia meninggal dunia. Bahkan, Romo Mangun meminta orang dekatnya harus tertawa saat mendengar kabar kematian tersebut.
“Namun limabelas tahun berlalu kami masih belum bisa tertawa lepas. Pesan dan pelajaran seperti kerja keras, kerja cerdas, dan nyata hasil masih menancap di hati kami. Untuk itu masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikumpulkan,” kata Sudaryanto. (*/amd)