JOGJA – Perlahan, setelah terkena dampak hujan abu Gunung Kelud, perhotelan di DIJ mulai bangkit. Terhitung hingga awal minggu keempat Februari 2014 ini tingkat okupansi di 32 hotel berbintang di DIJ dengan jumlah kamar mencapai 4.600 mencapai 57 persen. Angka ini meningkat dari minggu lalu yang hanya 23 persen saja.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIJ Istidjab M Danunegoro mengatakan minggu ini kegiatan Meeting, Incentive, Conference and Exhibition (MICE) mulai digelar kembali. Selain itu, beberapa tamu dari luar kota juga mulai ada yang masuk menginap. “Yang ramai terutama di ring satu dan (hotel) bintang lima karena ada MICE,” ujar Istidjab kemarin (25/2).
Kembali pulihnya geliat perekonomian DIJ, terutama dengan dibukanya kembali Bandara Adisutjipto, membuat hotel-hotel di DIJ aktif berpromosi. Mereka juga berusaha meyakinkan para tamu dari luar daerah jika kondisi di DIJ sudah kembali pulih dan tidak lagi terdapat debu. Istidjab mengungkapkan hotel-hotel banyak yang promosi ke Jakarta. “Mulai aktif door to door terutama ke Kementerian,” jelasnya.
Diakui General Manager Grand Quality Hotel ini, memang masih perlu waktu untuk bisa kembali mendatangkan tamu. Terlebih saat ini, selama Januari hingga Maret merupakan masa low season. Ditambah lagi, ujar dia, pada kali ini juga terkena imbas letusan Gunug Kelud. Tetapi dirinya meyakini pada April nanti sudah memasuki high season dengan banyak gelaran MICE yang diadakan di DIJ.
Istidjab menambahkan hingga saat ini proses pembersihan lingkungan hotel dari pengaruh abu Gunung Kelud masih terus dilakukan. Terutama untuk kolam renang yang membutuhkan proses lebih lama. Hal itu juga dikarenakan abu dari Gunung Kelud yang berbeda karakternya dengan abu Gunung Merapi, sehingga untuk pembersihannya juga berbeda.
“Beberapa hotel masih melakukan pembersihan kolam renang, harapannya bisa segera selesai,” tuturnya. (pra/ila)