Sowak: Kasus Udin Jangan Terulang
JOGJA– Teror bom molotov yang menimpa wartawan Radar Jogja Frietqi Suryawan alias Demang mengundang empat.i dan keprihatinan banyak kalangan. Termasuk dari sesama wartawan.
Sikap itu ditunjukkan dengan menggelar aksi bertajuk Solidaritas Wartawan Antikekerasan (Sowak) di halaman gedung DPRD DIJ, kemarin (25/2).
Dalam aksi itu, Sowak mengecam aksi kekerasan tersebut. Sowak juga menuntut kepolisian bisa bekerja cepat mengungkap pelaku, dan dalang di balik aksi terkutuk itu.
Mereka juga tak ingin, kasus terbunuhnya wartawan Harian Bernas Fuad Muhammad Syafrudin alias Udin yang terjadi 18 tahun silam kembali berulang. Terlebih, profesi wartawan sangat rentan terhadap tindak kekerasan.
“Aksi kekerasan dengan alasan apa pun tidak dapat dibenarkan. Apalagi diduga karena sengketa berita. Itu bisa diselesaikan dengan hak jawab, dan mengadukan ke Dewan Pers,” tandas Koordinator Sowak Bagus Kurniawan saat berorasi.
Ia menegaskan, jurnalis di seluruh Indonesia akan terus mengawal penuntasan perkara teror bom molotov itu. Mereka akan terus mendorong agar polisi bersikap profesional dalam menangani perkara tersebut.
“Kinerja wartawan dilindungi UU No 40/1999 tentang Pers. Polisi sebagai penegak hukum harus bersikap tegas,” katanya yang disambut teriakan hidup wartawan oleh peserta aksi.
Wartawan Detik.com itu menambahkan, pengusutan kasus teror bom molotov itu harus tuntas. Dengan demikian, pengusutannya tidak sampai terkatung-katung tidak ada kejelasan seperti kasus Udin.
“Teror ini tak boleh dibiarkan. Sangat berlebihan ketika menanggapi sebuah berita yang sudah ada aturannya,” ujarnya.
Kepala Biro Humas Jogja Police Wacth (JPW) Baharudin Kamba juga turut hadir dalam aksi itu. Dalam orasinya, Kamba meminta polisi sesegera mungkin menangkap pelaku dan mengungkap tokoh intelektual di belakangnya.
“Tangkap secepatnya pelakunya, buka lebar-lebar siapa orang yang ada di balik teror itu,” ujar Kamba.
Saat aksi berlangsung, puluhan aparat kepolisian terlihat bersiaga mengamankan jalannya aksi. Ketua DPRD DIJ Yoeke Indra Agung Laksana juga sempat bergabung menyaksikan jalannya aksi.
Saat aksi, ada aksi teatrikal berupa dua peserta mengenakan sebo (penutup muka) sambil membawa botol kosong yang diberi sumbu dari kertas koran. Kedua orang itu menjadi simbol pelaku teror pelemparan bom Molotov ke rumah Demang pada Senin dinihari (24/2).
Selain itu, beberapa wartawan juga menyuarakan berbagai aspirasi melalui berbagai tulisan di poster. Di antaranya “Stop Intimidasi, Teror Molotov Tak Hentikan Berita”, dan tulisan-tulisan lain berisi dukungan kepada polisi.
Dari Magelang dilaporkan, aksi juga digalang mahasiswa Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Tidar 21, Universitas Muhammadiyah Magelang, dan wartawan berbagai media. Mereka menggelar aksi damai di Mapolres Magelang Kota, kemarin.
Dalam aksi teatrikal itu, mereka menyoal kebebasan pers di Kota Magelang yang mulai terkekang. Seorang wartawan yang digambarkan sedang melakukan peliputan tiba-tiba dikejar oleh dua orang tak dikenal. Tanpa banyak cakap, seorang wartawan kemudian dipukul oleh dua orang preman hingga babak belur.
Darah di muka wartawan terus berceceran. Hingga badanya tergeletak di jalan, wartawan kemudian ditinggal begitu saja.
“Ini lah gambaran kebebasan pers yang masih dikekang. Keamanan para wartawan tidak terjamin,” ujar Koordinator Aksi Yanuar Candra.
Mereka kemudian menuntut Kapolres Magelang Kota AKBP Tommy Aria usegera bertindak. Kapolres diminta secepatnya menuntaskan kasus teror itu.
“Aksi teror tidak hanya sekali ini saja di Magelang. Beberapa waktu belakangan aksi teror juga sempat menimpa anggota DPRD, dan aktivis LSM,” jelasnya.
Tidak hanya berorasi, mereka juga membawa aneka spanduk dan poster. Di antaranya “Magelang Kota Sejuta Teror”, “Save Journalist”, “Aksi teror tak menyurutkan Kritisme kami”, “Stop Kekerasan” dan lain sebagainya.
Mereka menilai tindakan teror tersebut adalah aksi pengecut. Ancaman bagi wartawan itu merupakan menciderai kebebasan pers di era modern.
Karena itu, massa gabungan mahasiswa dan wartawan itu meminta polisi segera menuntaskan kasus tersebut dalam waktu 7 x 24 jam. “Bila tidak mampu, kami minta sebaiknya Kapolres untuk mundur dari jabatannya,” tegasnya.
Wiwid Arif, salah seorang wartawan menambahkan, aksi teror tidak membuat gentar kalangan media menulis penyimpangan dalam pelaksanaan kebijakan publik.
“Rasanya pengecut kalau pemberitaan itu dijawab dengan aksi teror,” tegasnya.
Kapolres Magelang Kota AKBP Tommy Aria Dwianto menanggapi positif aksi itu. Ia merasa mendapatkan dukungan untuk mengusut aksi teror terhadap wartawan tersebut.
“Kami akan selalu ingat dalam menjalankan profesinya, Polri dan pemerintah harus selalu trasparan. Tidak seharusnya ada aksi memalukan di Kota Magelang. Tuntutan dari wartawan dan mahasiswa ini juga jadi motivasi bagi kami,” ungkapnya.
Disinggung tenggat waktu 7×24 jam untuk menyelesaikan kasus tersebut, Kapolres enggan menanggapi. Tommy mengaku sejauh ini sudah memeriksa tiga orang saksi. Termasuk penyelidikan yang melibatkan tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jateng.
Ketua DPRD Kota Magelang, Hasan Suryoyudho juga mengecam kasus teror bom Molotov tersebut.
“Tidak pas, kalau masalah pemberitaan dibalas dengan teror seperti itu, rumah dilempari bom molotov. Pihak yang tidak puas, bisa memberikan hak jawab, jangan dibalas dengan kekerasan,” kata Hasan.
Hasan yang juga Ketua DPC Komite Sepeda Indonesia Kota Magelang berharap Polres Magelang Kota bisa menuntaskan perkara itu. ” Saya harap pelakunya bisa segera ditangkap agar suasana menjadi kondusif,” jelasnya. (eri/ady/kus)