OTODIDAK: Anggota Turonggo Harjo belajar menarikan dan memainkan musik untuk jathilan dengan melihat dari video dokumentasi.
*Kelompok Jathilan Turonggo Harjo

KESENIAN jathilan saat ini tidak hanya identik dengan orang dewasa saja. Anak-anak dan remaja saat ini mulai tertarik untuk mempelajari kesenian tradisional ini. Tidak hanya sebagai penonton, bahkan anak-anak dan remaja tertarik untuk melakoninya. Seperti yang dilakukan oleh sejumlah anak dan remaja dari Dusun Panggang III Desa Giriharjo, Gunungkidul.Para pemuda dusun Panggang III ini memilih aktif bergabung dalam kelompok jathilan Turonggo Harjo. Saat ini anggota dari Turonggo Harjo berjumlah 40 orang, dengan mayoritas anggota anak muda. “Ini merupakan kesadaran dari generasi muda di dusun Panggang III. Awalnya kelompok ini berdiri tahun 2000 namun vakum lalu berdiri lagi tahun 2012 dengan format baru,” kata Pembina Turonggo Harjo Kamiyo belum lama ini.Kamiyo mengungkapkan sejarah awal berdirinya kembali kelompok ini. Awalnya para generasi muda merasa terpanggil karena desanya dulu memiliki kelompok jathilan. Namun karena vakum cukup lama membuat kelompok kesenian ini mati suri.Anak muda di dusun Panggang III kemudian berinisiatif untuk mendirikan kembali kelompok ini. Tujuannya tak lain untuk nguri-uri kebudayaan yang telah dimiliki dusun ini. Semangat belajar kelompok ini terbilang tinggi.Kamiyo menceritakan untuk belajar jathilan, anak-anak Turonggo Harjo melihat rekaman dokumentasi. Dari rekaman video ini, setiap anggotanya belajar bagaimana menari hingga bermain gamelan. Meski belajar secara otodidak, para sesepuh Turonggo Harjo tetap mengawasi dan melakukan pembinaan. “Semangat para generasi muda untuk belajar dan nguri-uri sangatlah tinggi. Ada kesadaran jika bukan mereka, maka kekayaan ini akan punah. Saat belajar juga terbuka terhadap hal-hal baru seperti jalan cerita atau musiknya,” kata Kamiyo.Kamiyo sendiri mengaku tidak keberatan dengan perubahan yang dilakukan para generasi muda ini. Dengan mengusung konsep baru justru bisa menarik minat generasi. Namun untuk mempertahankan nilai-nilai, beberapa pakem jathilan tetap dipegang teguh oleh kelompok ini.Seperti yang terlihat saat Turonggo Harjo pentas di halaman Taman Budaya Yogyakarta (TBY) belum lama ini. Mengenakan seragam yang cerah, penggawa kelompok jathilan ini menampilkan setiap fragmen dengan apik. “Saat ini untuk kelompok Turonggo Harjo terbagi menjadi tiga subkelompok. Sudah terjadwal dalam dua minggu sekali pentas jathilan. Usaha seperti ini tentunya wajib kita dukung, apalagi kesadaran datang dari anggota-anggota muda,” kata Kamiyo. (dwi/ila)