PURWOREJO – Forum Jurnalis Purworejo (FJP) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Purworejo melakukan aksi turun ke jalan, kemarin (27/2). Mereka menyerukan sikap sama, menolak aksi teror dan mendesak kasus teror bom molotov di rumah wartawan Radar Jogja (Jawa Pos Group) Frietqi Suryawan alias Demang diusut tuntas kepolisian.
Dilengkapi atribut lengkap, seperti spanduk dan tulisan bernada kecaman pada pelaku terror bom molotov, aksi solodaritas diikuti puluhan mahasiswa dan jurnalis media cetak maupun elektronik di Purworejo. Aksi dimulai pukul 09.30 di depan Masjid Agung Purworejo. Secara bergantian mereka berorasi dan memekikkan perlawanan. Tidak berhenti di situ, hapening art juga digelar. Tubuh dua peserta aksi dicat warna hitam, sebagai simbol matinya kebebasan pers. Mereka juga sepakat melawana aksi teror pada wartawan.
Aksi berjalan tertib dan lancar, dengan pengawalan aparat.Tanpa menganggu pengguna jalan, masyarakat yang melintas menaruh simpati. Baik melambaikan tangan atau mengacungkan jempol mereka. Puas berorasi dan berteatrikal, pukul 11.00, peserta melanjutkan aksi jalan kaki ke Mapolres Purworejo.
Sebuah petisi yang dibubuhi tandatangan peserta dibacakan. Seluruh alat peliputan diletakkan di tanah, sebagai protes upaya pemberangusan kebebasan pers. Selanjutnya, petisi diserahkan pada Kapolres Purworejo AKBP Rhoma Hutajulu SIK MSi yang diwakili Wakapolres Purworejo Kompol Elvian Rudi Harmoko SSos.
Petisi penuh tanda tangan dititipkan pada Kapolres Purworejo untuk disampaikan pada Kapolresta Magelang sebagai bentuk dukungan moral agar kasus teror bom molotov yang menimpa wartawan Radar Jogja cepat terungkap. Petisi atau pernyataan sikap berisi empat poin.
Di antaranya, mengutuk keras pelaku teror bom molotov, meminta polisi mengusut tuntas pelaku berikut otak di balik pelemparan bom molotov, serta dukungan moral pada polisi agar kasus segera terungkap. Terakhir, menuntut polisi menuntaskan sejumlah kasus kekerasan pada wartawan di seluruh Indonesia yang belum selesai, termasuk kasus Udin (Wartawan Bernas,Red).
“Kami juga minta jaminan keamanan selama bertugas di wilayah hukum Polres Purworejo. Terpenting, kasus yang menimpa rekan wartawan Radar Jogja di Magelang cepat terungkap dan pelakunya diproses secara hukum. Aksi ini merupakan inisiatif para jurnalis dan mahasiswa sebagai rasa solidaritas, kami berharap kasus ini tidak terjadi di Purworejo,” ungkap Rinto Haryadi, ketua FJP Purworejo, usai menggelar aksi.
Ketua PMII Purworejo Lukman Hakiem menambahkan, sebagai agen kontrol sosial, profesi wartawan rentan dengan teror, intimidasi, serta kekerasan. Kendati profesi wartawan dilindungi Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999. Kenyataannya, hingga kini kasus teror dan intimidasi pada wartawan masih terjadi.
Wakapolres Purworejo Kompol Elvian Rudi Harmoko SSos menegaskan, Polres Purworejo menyambut baik upaya para awak media di Purworejo. Ia mendukung proses penyidikan dan upaya hukum yang dilakukan Mapolresta Kota Magelang.
“Pak Kapolda sudah menyatakan sikap, petisi ini saya terima dan secepatnya akan disampaikan pada Kapolresta Magelang. Kami juga sekuat tenaga menjamin keselamatan dan keamanan kerja para jurnalis saat mengemban tugas mulia,” katanya.(tom/hes)