MINGGU (23/3) Lalu, di depan Pendopo Rumah Dinas Bupati Purworejo, seorang siswa SMK YPT mengalami trance atau kesurupan. Momen ini paling disukasi saat pementasan Jaran Kepang.
Iringan kendang, angklung, gong, dan drum terus menghentak. Barongan berkepala Harimau disiapkan, dipegang sang pawang di dekat kendang. Sedikit demi sedikit, dengan wajah menandak, ia mendekatinya. Tiga orang bergegas membantu memegangnya.
Sejurus kemudian, penari terlempar ke belakang. Ia sembuh dan tersadar dengan roman muka terlihat lemas.
Itu merupakan puncak pementasan dalam rangkaian pertunjukan kesenian tradisional Kuda Lumping SMK YPT Purworejo pada acara CFD Alun-alun Purworejo.
Grup kesenian yang diberi nama Turonggo Siswo ini merupakan kumpulan para siswa yang memiliki kemampuan dan keinginan menguasai kesenian kuda lumping.
“Kami belum lama membentuk kelompok ini. Didukung anggaran BOS sekolah, kesenian ini menjadi media siswa berekspresi dengan seni. Mereka membentuk dan mengurus kelompok seni sendiri,” kata Eri Ponco Prasetyo SPdT, Waka Kesiswaan SMK YPT, baru-baru ini.
Menurut Eri, antusiasme para siswa begabung dalam Turonggo Siswo cukup tinggi. Baru dibentuk, ada 30 siswa menyatakan bergabung dan mengangkat nama sekolah dengan kuda lumping.
“Ada juga siswi putrinya. Berhubung waktunya mepet, mereka belum bisa pentas kali ini,” ungkapnya.
Eri menambahkan, kegiatan positif tersebut juga bagus untuk pelestarian budaya. Selain itu, juga baik untuk melatih mental dan kepercayaan diri anak.
“Pelatih didatangkan dari grup kesenian di Pangenrejo. Ia memberikan aneka bentuk gerakan tari dan telaten pendampingan para siswa,” imbuhnya.
Soal biaya operasional pementasan, Eri mengungkapkan, biaya pembentukan grup dan pementasan diambilkan dari anggaran sekolah yang bersumber dari dana BOS.
“Penggunaan ini tidak menjadi masalah, karena diperuntukkan bagi siswa,” ungkapnya.
Agam Ardiansyah, 16, siswa kelas X SMK YPT Purworejo Jurusan Kelistrikan bergabung dengan grup kesenian kuda lumping di lingkungan sekolahnya.
“Saya aktif dalam grup kesenian kuda kepang di desa tempat tinggal saya. Tepatnya di Desa Gintungan, Kecamatan Gebang. Di sini gerakkannya agak berbeda, tapi saya bisa cepat menyesuaikan diri karena terbiasa dengan gerak-gerak dasar jaran kepang itu,” ucapnya.
Agam mengaku senang turut serta dalam kegiatan pementasan pada kegiatan CFD.
“Disini kan berbeda dengan di desa. Pakaian yang saya gunakan dari sekolah cukup bagus. Tampilannya juga lebih wah. Sementara lokasinya di Alun-alun dan ditonton banyak orang,” katanya.(*/hes)