MUNGKID – Lambannya perbaikan jalan rusak oleh Pemkab Magelang memaksa massa dari berbagai elemen masyarakat turun ke jalan. Mereka menutup Jalan Muntilan-Talun saat melakukan aksi. Akibatnya, truk pengangkut galian golongan C Merapi tidak bisa melewatinya.
Sekitar 200 orang dari beberapa dusun sepanjang Jalan Talun berkumpul. Mereka datang dari Desa/Dusun Beteng, Kauman, Sleko, Sedayu, Gondosuli, Patosan, Tegalurung dan lainnya. Hadir pula petani, buruh, pelajar, mahasiswa, dan komponen masyarakat yang tergabung Komando (Koalisi Masyarakat untuk Demokrasi). Sembari menutup jalan, mereka berorasi dan membentangkan spanduk dan poster. Berbagai tulisan dalam poster berbunyi, “Kembalikan Fungsi Jalan Ini”, “Tolak Truk Pasir”, “Kapan Negaraku Maju, Kalau Jalannya Rusak”, “Tolong Hargai Kami”, “Jangan Menunggu Korban Lagi yang Jatuh Karena Jalan Rusak”, “Aku Tidak Mau Sekolah Karena Gara-Gara Jalan Rusak”, “Gara-Gara Truk Pasir, Jalanku Rusak,” dan lainnya.
Mereka menyatakan, jalan rusak sudah tiga tahun. Sejauh ini, belum ada tanggapan dari Pemkab Magelang. Lebih parah lagi, jalan yang sering dilalui armada truk pengangkut pasir, merupakan jalur evakuasi manusia saat erupsi Merapi.
“Ini jalur umum, bukan jalur evakuasi material Merapi,” sindir Koordinator aksi, Agus Sodik, kemarin (27/2).
Agus melanjutkan, sesuai fakta dan kondisi yang ada, truk-truk pasir dengan tonase lebih dari 8 ton melintas setiap hari selama 24 jam. Jika dihitung, ada 500 truk pasir melintas di Jalan Talun setiap hari.
“Kami menilai terjadi perampasan hak-hak publik atas sarana transportasi yang layak. Karena itu, kami menolak dan dengan kesadaran penuh tanpa motif politik tertentu, bersatu menyamakan sikap dengan membuat tiga tuntutan,” tegas pria berusia 40 tahun ini.
Mereka menuntut Pemkab Magelang segera memperbaiki jalan tersebut. Selain jalur evakuasi, jalan itu merupakan jalan utama penghubung Kecamatan Muntilan dengan Kecamatan Dukun, serta Kabupaten Boyolali. Tiga tuntutan yang disampaikan adalah meminta Pemkab Magelang secepatnya memperbaiki jalan untuk keselamatan dan kenyamanan warga. Kemudian, pemda mengembalikan fungsi jalan sebagai jalan utama dan jalur evakuasi. Ini sesuai UU Nomor 38 Tahun 2004 tentang jalan dan Permen PU Nomor 11 Tahun 2011 tentang jalan khusus.
“Permintaan kami berikutnya, buat jalur khusus untuk armada galian C,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, Jalan Talun merupakan bagian prasarana transportasi yang mempunyai peran penting diberbagai bidang. Di antaranya, bidang ekonomi, sosial budaya, lingkungan hidup, politik, pertahanan, dan prasarana distribusi barang dan jasa, hasil pertanian, dan perkebunan. Seharusnya, lanjutnya, jalan ini digunakan untuk kemakmuran masyarakat. jadi, bukan kepentingan golongan tertentu.
“Pemkab Magelang perlu membuat peraturan daerah, terkait jalur evakuasi bencana sebagai wujud implementasi UU Nomor 24 Tahun 2007 dan PP Nomor 21 Tahan 2008 tentang penanggulangan bencana,” katanya.
Camat Muntilan Iwan Sutiarso menanggapi desakan masyarakat. ia mengaku secepatnya menyampaikan aspirasi warga pada pihak terkait. Prinsipnya, memperbaiki jalan membutuhkan anggaran tidak sedikit. Namun, dipastikan jalan itu segera diperbaiki.
Ia juga meminta masyarakat bersabar. Terkait tuntutan warga untuk membuat jalur khusus armada galian C, dirinya tak bisa berjanji. Kaerna membutuhkan kajian lebih mendalam. Ia hanya berjanji menyampaikan aspirasi masyarakat ke pihak yang berkompeten. “Terpenting, warga harus bersabar,” pintanya.(ady/hes)