Warga Jogjakarta dikenal sudah akrab dengan bencana alam. Mereka pernah “menjadi korban” gempa bumi, letusan Gunung Merapi, angin puting beliung, dan banjir. Itu justru menjadi salah satu keunggulan. Warga Jogjakarta cepat bangkit setiap kali terjadi bencana.
HERI SUSANTO, Jogja
JUMAT (14/2) matahari malu-malu menyinari bumi Jogjakarta dan sekitarnya. Hujan abu vulkanis dari letusan Gunung Kelud pada Kamis (13/2) malam mampu menutup terangnya sinar matahari. Akibatnya, jarak pandang saat itu sangat terbatas. Jarak pandang maksimal hanya dua sampai tiga meter.
Kondisi itu menyulitkan masyarakat untuk beraktivitas. Mobilitas masyarakat lumpuh. Banyak fasilitas publik seperti sekolah, rumah sakit, dan bandar udara memilih libur memberi layanan kepada masyarakat.
Alhasil, selama tiga hari sejak Jumat sampai Minggu (16/2) Jogjakarta dan sekitarnya berhenti berdenyut. Tapi, dalam waktu singkat yakni terhitung Senin (17/2) aktivitas masyarakat pulih kembali. Abu dari Gunung Kelud yang terlihat masih menutupi beberapa tempat tak mampu menghalangi derap aktivitas masyarakat.
Selama dua hari yakni Senin sampai Selasa (17-18/2), warga, TNI, polisi, dan unsur tim penanganan bencana bahu-membahu membersihkan abu. Ini sesuai instruksi Gubernur DIJ Hamengku Buwono X yang meminta masyarakat untuk gotong-royong menormalkan lingkungan dari abu Kelud yang menyelimuti.
Instruksi gubernur ini langsung direspon masyarakat. Rabu (19/2) aktivitas masyarakat di semua lini pulih seperti sebelum hujan abu. Bandara Internasional Adisutjipto, yang sempat kesulitan membersihkan landasan dan tempat parkir pesawat dari abu, bisa beroperasi. Hal tersebut menjadi penanda bangkitnya kehidupan masyarakat.
Respons masyarakat Jogjakarta yang cepat bangkit dari bencana alam ini ternyata menarik perhatian TNI, polisi, dan Pemprov DIJ. Mereka mengaku kerja sama dengan masyarakat terbukti mampu dengan cepat mengatasi bencana alam.
“Sangat berbeda di sini (DIJ). Masyarakatnya benar-benar istimewa. Cepat bangkit dari kondisi keterpurukan saat terjadi bencana,” tandas Komandan Korem 072 Pamungkas Brigjend Sabrar Fadhilah saat komunikasi sosial jajarannya terhadap stakeholder penanganan bencana di Gedung Pamungkas Jogjakarta kemarin (27/2).
Sabrar mengaku kebiasaan gotong royong warga Jogjakarta sangat luar biasa. Itu membuat kerja tentara dalam mengamankan barang maupun membantu proses normalisasi menjadi lebih cepat.
“Di daerah lain, kejadian seperti ini malah membuat keamanan kacau. Polisi dan tentara malah fokus pada pengamanannya. Sulit jadinya untuk bisa cepat bangkit dari keterpurukan,” ujar jenderal dengan bintang satu di pundak ini.
Perwira tinggi ini mengakui masyarakat Jogjakarta sangat istimewa dalam hal bersatu menghadapi musibah. Mereka rela melupakan kepentingan pribadi dan mengutamakan kepentingan umum.
“Di rumah masing-masing itu juga penuh debu vulkanis. Tapi mereka rela untuk kerja bakti membersihkan fasilitas umum,” lanjutnya.
Kondisi masyarakat yang cepat bangkit ini, membuat Sabrar berkelakar di hadapan para peserta komunikasi. Mereka berasal dari instansi pemerintah maupun lembaga kemasyarakatan.
“DIJ pantas sebagai percontohan penanganan bencana alam. Mau belajar bagaimana bergotong-royong mengatasi bencana, datang ke Jogjakarta,” ucapnya lantas disusul tepuk tangan dari para peserta.
Hal senada diungkapkan Kepala Polda DIJ Brigjend Pol Haka Astana. Menurutnya, wilayah Jogjakarta yang masuk kategori daerah rawan bencana membuat masyarakatnya lebih siap. Ini dia rasakan sejak menjadi Kapoltabes Kota Jogja pada 2006.
Saat itu di Jogjakarta terjadi bencana gempa bumi tektonik yang meluluhlantakkan infrastruktur. Permukiman masyarakat hancur. Banyak bangunan runtuh. Ribuan nyawa melayang.
“Kami akhirnya bersama-sama kerja bakti di Malioboro yang kemudian disiarkan langsung televisi nasional. Itu memperlihatkan kondisi Jogja telah bangkit. Normal kembali,” terang Haka. (*/amd)