SLEMAN– Musibah erupsi Gunung Merapi pada 2010 tak lekang dari ingatan warga Cangkringan. Karena itu, meski hingga kini masih berjuang dalam tahap pemulihan (rehabilitasi dan rekonstruksi) mereka tetap memupuk solidaritas bagi korban erupsi Gunung Kelud di Kediri.
Rasa senasib itu diwujudkan dengan pengiriman bantuan, baik dalam bentuk uang atau barang. Bahkan, bantuan yang diakomodasi Kecamatan Cangkringan itu lebih banyak dibanding bantuan yang disalurkan Pemkab Sleman.
Camat Cangkringan Bambang Nurwiyono mengatakan, bantuan berasal dari lima desa, yakni Glagaharjo, Kepuharjo, Argomulyo, Wukirsari, dan Umbulharjo. Total lebih dari Rp 130 juta diujudkan dalam bentuk barang semua. Misalnya, terpal, alat mandi, sembako, keperluan wanita, obat-obatan, dan pakaian pantas pakai. Sementara pemkab menyerahkan bantuan barang senilai Rp 100 juta dari Badan Amil Zakat (BAZ). “Itu belum termasuk bantuan yang diakomodasi desa masing-masing,” ungkap Bambang kemarin (2/3).
Bantuan dari Cangkringan dikirim hari ini, sedangkan pemkab telah mengirimkan ke Kediri pada Jumat (27/2). Bahkan, sebagian warga Cangkringan juga berangkat sebagai relawan ke lereng Kelud dengan ongkos pribadi.
Rencananya, relawan dari Glagaharjo berangkat pada Jumat (7/3). Total ada 56 relawan asal Cangkringan berangkat ke Kediri. Di lokasi tujuan, mereka akan bergabung dengan relawan utusan Pemkab Sleman sebanyak 67 orang.
Kades Glagaharjo Suroto mengatakan, para relawan juga membawa bantuan hasil iuran warga senilai lebih dari Rp 10 juta. Beda dengan kecamatan dan kabupaten, Suroto pilih kirim bantuan dalam bentuk uang tunai. Itu berdasarkan pengalaman musibah 2010 di Merapi. Menurut Suroto, bantuan bahan sembako tak semua habis dipakai. “Kalau uang, kan bisa dikelola sendiri. Warga sana (Kediri) butuh genting, itu bisa buat beli,” ungkap Suroto.
Terpisah, Bupati Sleman Sri Purnomo mengimbau para relawan agar senantiasa menunjukkan semangat sosial dan etos kerja yang baik dalam membantu korban Gunung Kelud. “Jangan sampai malah merepotkan serta menambah beban bagi masyarakat setempat tertimpa musibah,” ingat Sri.
Bupati tidak hanya memberangkatkan tim relawan yang terdiri unsure Tagana, SAR, dokter, dan perawat kesehatan. Sebagian pejabat teras Pemkab Sleman juga diminta mengawal para relawan. Di antaranya Staf Ahli Bidang Pembangunan Purwanto, Kepala BPBD Juli Setyono Dwi Wasito, Kepala Dinas Nakersos Untoro Budiarjo, Kepala Dinas Kesehatan Mafilinda Nuraini, Kabag Kesra Heri Sutopo, dan Perwakilan dari BAZ Sleman Kriswanto.
Selain bantuan barang, pemkab juga meminjamkan sarana hidrant umum (untuk air bersih) selama satu bulan. (yog/din)