Ada hikmah di balik bencana. Ini dialami Nuryanto, 40, warga Dusun Djowahan, Desa Wanurejo,Kecamatan Borobudur. Berkat kreativitasnya, ia menyulap keberadaan abu vulkanis yang mencapai Kabupaten Magelang beberapa waktu lalu, menjadi barangyang bermanfaat. Lewat tangan terampilnya, ia merubah abu vulkanis menjadi hasil karya kesenian.
ADI DAYA PERDANA, Mungkid
Setiap orang tidak menyangka, dampak dari letusan Gunung Kelud sampai Magelang. Hampir 12 jam, letusannya merubah wajah semua wilayah di KabupatenMagelang menjadi putih. Abu yang turun dengan ketebalan 0,5 – 1 sentimter tersebut, kemudian dimanfaatkan Nuryanto.
Ia mencoba mengumpulkan material Merapi berupa abu vulkanis tersebut. Ia dikenal memiliki kreativitas tinggi. Lewat tangan terampilnya, abu vulkanis yang dikumpulkan dijadikan bahan pembuatan miniatur berbagai patung Buddha.
Selanjutnya, Nuryanto meminta bantuan tetangga untuk mengumpulkan abu vulkanis yangdibersihkan dari rumah-rumah warga.
Tak hanya itu, upaya pencarian abu vulkanis merambak semua desa di Kecamatan Borobudur. Bahkan, ia meminta bantuan orang untuk mencarikan di beberapa kecamatan lain.
Lebih dari lima hari, ia mengumpulkan lebih daripuluhan karung abuvulkanis.Setelah terkumpul banyak, ia mulai mengolahnya menjadi benda kerajinan.
“Saat melihat abu vulkanis yang melimpah, sayatertarik membuatnya menjadi benda kerajinan,” ungkap Nuryanto, kemarin (2/3).
Kreativitasnya semakin terpacu dari sebelumnya. Apalagi Nuryanto memang dikenal perajin miniatur ulung. Dia sering membuat aneka kerajinan dari bahan pasir dan limbah kayu, kurang lebih sejenis dengan abu vulkanis.
Kini, beberapa hasil karyanya seperti miniatur Candi Borobudur, berupa candi, stupa, papanrelief, maupun patung Buddha sudah berhasil diciptakan. Dengan abu vulkanis, karya-karya seninya juga terasa berbeda.
Menurut Nuryanto, abu vulkanis dinilai memiliki butiran yang halus. Kondisi itu membuatnya mampu mencetakmenjadi bentuk detail yang lebih runcing dan tajam.
“Ini menguntungkan, karena bentuk miniatur Candi Borobudur semakin bagus saat terlihat detailnya. Secara nominal, ini menambah kualitas,” tegas bapak tiga anak itu.
Pria yang baru saja menerima penghargaan dari Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo atas perannya sebagaistakeholderpariwisata kelompok UMKM dalam rangka mendukung secara aktif pelaksanaan Visit Jateng 2013 ini, telah 25 tahun lebih menekuni dunia kerajinan tersebut. Berbagaiperalatan dan desain dimiliki. Yang menarik, dari beragam produksi kerajinannya, ia membuatnya dari berbagai bahan.
Hal ini yang membedakan dengan perajin miniatur candi lainnya. Pada produk sebelumnya, ia menggunakan berbagai jenisbahan. Seperti kayu, sisa gerusan batu, fiberglass, bedak bayi, dan lainnya.
Datangnya bahan abu dari Gunung Kelud tersebut, membuat barang kerajinannya terlihat seperti penampilan baru.
Selama 25 tahun ini, produk yang dibuatnya masih sama. Yakni miniatur Candi Borobudur, baik berupa candi, stupa, papanrelief maupun patung Buddha. Ia mengembangkan bahan-bahan yang ada. Termasuk adanya abu vulkanis, menjadikan karyanya memiliki keunggulan yang tidak didapatkan dari produsen lain.
Untuk mengolah abu kasar yangdikumpulkan tersebut, ia terlebih dahulu mengayak abu menggunakan sejumlah ayakan, hingga dihasilkan butiran yangdiinginkan. Butiran hasilnya harus digoreng atau dimasaktanpa minyak terlebih dahulu hingga kering.
Tahap selanjutnya, ia mengolah dengan mencampur dengan getah pinus dengan takaran tertentu atau tepung tapioka. Kemudian, semen putih dan pewarna hitam menggunakan limbah batu baterai.
“Untuk pewarna lain, bisa juga menggunakan pewarna cat atau pikmen,” tegas mantan Pemuda Pelopor terbaik II tingkat Jawa Tengah 2008 di bidang kewirausahaan.
Setelah semua siap, selanjutnya dicetak sesuai cetakan yang dinginkan. Di antaranya, berbagai hiasan dinding, meja,gantungan kunci, dan asbak. Untuk harga benda-benda tersebut, ia memberi bandrol mulaiRp 20 ribu hingga ratusan ribu rupiah. Semuanya, tergantung ukuran dan tingkatkesulitan.
Dari hasil karya Nuryanto dan beberapa pekerjanya, hasilnya tidak perlu diragukan. Tidak hanya pasar dalam negeri, bursa luar negeri juga pernah dimasukinya.
“Ada sebagian diekspor ke Jerman dan sebagian ke Asia Timur. Seperti Jepang dan Korea,” katanya.(*/hes)