SLEMAN– Memiliki kemampuan tinggi ternyata bukan jaminan bisa menyelamatkan korban dalam sebuah kecelakaan maupun bencana. Tim Search And Rescue (SAR) terlebih dahulu harus melakukan assesment sebelum melakukan pencarian, maupun menyelamatkan korban.
Dalam pencarian korban bangunan runtuh atau colapse structur, assesment atau kaji cepat menjadi kunci utama keberhasilan pencarian dan pertolongan. Tim SAR tidak bisa langsung masuk ke reruntuhan bangunan ketika mengetahui seorang korban terhimpit di antara puing-puing bangunan.
Sebaliknya, Tim SAR harus melakukan assesment terlebih dahulu. Itu meliputi bagian tubuh mana yang terjepit, seberapa berat beban penjepit. Hal ini penting untuk menentukan teknik apa dan alat apa yang harus digunaan. “Apakah cukup dengan cara manual, dongkrak, combitool atau air lifting bag,” papar Brigadir Kepala Nanang S dari Polda DIJ saat acara Jambore SAR DIJ di Lapangan Tritis Turgo, Turi, Sleman, kemarin (2/3).
Memasuki hari kedua pelaksanaan Jambore SAR DIJ kemarin, para relawan mengikuti berbagai materi tentang search dan rescue. Sekitar 1.000 relawan ini dibagi ke dalam berbagai kelompok untuk mengikuti materi seperti colapse structure, vertical rescue, navigasi, water rescue dan emergency first responder (EFR).
Pada materi vertical rescue, relawan dikenalkan dengan simpul dan beberapa alat standart. Targetnya, relawan bisa menentukan titik aman untuk memasang tali dalam pencarian dan pertolongan korban.
Ada pun pada materi navigasi, relawan dikenalkan dengan topografi atau tampilan sesungguhnya sebuah wilayah. Pengenalan topoafi menjadi penting karena saat terjadi situasi darurat, relawan yang berfugsi sebagai tim bantu darat bisa bergerak cepat dan tepat sasaran.
Materi water rescue memberikan pengenalan kepada relawan tentang pertolongan dalam kecelakaan di air baik tanpa alat maupun menggunakan alat. Sedang pada materi emergency first responder, mengenalkan kepada relawan bagaimana memberikan pertolongan pertama korban kecelakaan maupun musibah secara benar secara medis.
“Dengan waktu yang sangat singkat, semua materi memang bersifat pengenalan,” ungkap Ketua Harian SAR DIY Ferry Ardyanto.
Ferry menambahkan, target dalam Jambore SAR DIJ memang bukan peningkatan kemampuan, melainkan bagaimana relawan yang begitu banyak bisa saling kenal sehingga saat terjadi bencana bisa saling bersinergi.
“Untuk peningkatan skill kita berharap ada campur tangan BPBD. Secara periodik BPBD bisa menggelar pelatihan khusus untuk relawan,” pungkas Ferry.
Kegiatan jambore itu ditutup oleh budayawan Emha Ainun Nadjib. Dalam pesannya, Cak Nun, sapaan akrabnya, mengatakan anggota SAR adalah barisan Tuhan dan barisan cinta. “Yang menolong tanpa melihat latar belakang dan dosa korban,” katanya. (yog/kus)