Enam bulan lalu, Padukuhan Plumbungan, Putat, Patuk menyandang predikat sebagai Kampung Emas versi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Emas kepanjangan dari elok, mandiri, aspiratif, dan sejahtera.
GUNAWAN, Patuk
JIKA ingin tahu kampung emas plumbungan, tidak sulit. Silakan klik dengan mesin pencari google. Begitu mudahnya mengakses informasi tentang bagian kecil wilayah Jogjakarta paling timur itu.
“Terima kasih kepada seluruh media yang membantu memublikasikan kampung kami kepada dunia. Kami cukup dikenal sekarang,” kata Ketua Karang Taruna Bhakti Muda, Plumbungan, Putat, Patuk, Wahyudi kepada Radar Jogja (2/3).
Dia menjelaskan, setiap akhir pekan kampung halamannya dibanjiri wisatawan, khusus pecinta kuliner. Menu andalan Brekat Dalem, terdiri dari ingkung ayam utuh dengan konsep kondangan ternyata diminati pengunjung. “Apalagi dihidangkan di tengah sawah. Rupanya pengunjung sangat tertarik,” terangnya.
Kepincutnya pengunjung dengan menu Brekat Dalem, menurut Yudi bukan hanya klaim pengelola. Setiap akhir pekan juru masak sampai kerepotan memenuhi permintaan. Bahkan, sejumlah pengunjung kecele karena belum mengerti dengan istilah jawa itung dino atau menghitung hari.
“Maksudnya, kalau mau pesan booking dulu supaya kami bisa memberi pelayanan maksimal. Proses menu ingkung membutuhkan waktu berjam-jam. Kami belum ada solusi bagaimana menyuguhkan dengan model pesan sekarang langsung jadi,” ucapnya.
Salah seorang pengunjung, Faried Zulkarnain jatuh cinta dengan menu Brekat Dalem. Dalam waktu dekat, bersama dengan koleganya dia akan datang untuk makan-makan lagi. Menurut Kapolres Gunungkidul itu, makan di tengah sawah, mengingatkannya pada masa kecil.
“Sangat natural, pelayan dan penduduknya ramah tamah,” kata Faried yang datang besama keluarganya.
Kepala Dusun (Dukuh) Plumbungan Sulistyo mengatakan tanpa dorongan, dukungan dan partisipasi banyak orang tidak mungkin salah satu padukuhan di Desa Putat itu bisa terkenal dan maju.
“Sekarang kami sudah dapat jeneng (nama), namun belum dapat jenang (makanan atau hasil). Keuntungan pengelola masih sangat kecil, karena kami masih dalam tahap promosi,” kata Sulistyo.
Dia meminta kepada pihak terkait, utamanya pemerintah daerah untuk memberikan dorongan, masukan ide dan gagasan. Cukup wajar jika rakyat jelata minta pertolongan kepada pemeritah, apalagi berkaitan dengan upaya pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat. (*/iwa)