JOGJA – Maraknya serbuan teknologi informasi (TI) jadi tantangan bagi pengelola perpustakaan. Terutama dalam meningkatkan ketertarikan masyarakat berkunjung dan membaca di perpustakaan.
Salah satu strategi yang mengedepankan TI adalah menyiapkan fasilitas online bagi pengunjung. Fasilitas ini mengarah kepada tren digital library alias perpustakaan digital.
“Cara ini memudahkan pengunjung mencari buku yang diinginkannya,” kata Kepala Humas Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Agus Sutoyo, pekan lalu.
Menurut Agus, saat ini pemerintah mewajibkan setiap perpustakaan baik di provinsi maupun kabupaten/ kota menyediakan sarana online berupa internet, selain fasilitas konvensional bagi pengunjung.
“Tidak semua masyarakat bisa mengakses perpustakaan secara online. Masih banyak perpustakaan baik di provinsi maupun kabupaten/ kota yang belum tersedia infrastruktur berupa jaringan untuk mengakses internet,” ungkapnya.
Alasan tersebut yang mendasari PerpuSeru, program kolaborasi antara Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI) dan Bill and Melinda Gates Foundation (BMGF) membantu dukungan teknologi informasi (TI) bagi perpustakaan di Indonesia, termasuk di Jogjakarta.
Beberapa perpustakaan yang sudah diberi sarana online ada di Gunungkidul dan Perpustakaan Daerah Sleman, di luar 32 perpustakaan daerah lain di Indonesia.
“Dukungan ini memberi manfaat langsung pada anggota masyarakat yang tidak memiliki perangkat komputer dan internet di rumah. Cara ini sekaligus menjadikan perpustakaan sebagai rumah belajar alias learning centre,” kata Direktur Program PerpuSeru, Erlyn Sulistyaningsih.
Erlyn menjelaskan, program yang telah menjangkau 34 perpustakaan umum pemerintah di 16 provinsi di Indonesia memberikan dukungan penyediaan akses komputer dan internet, pelatihan pada pustakawan, serta advokasi dan kemitraan. Lebih dari 5 ribu pengguna perpustakaan mendapatkan pelatihan di perpustakaan mitra Perpuseru, yang tersebar di Indonesia. Termasuk pelatihan komputer dan internet.
“Di sisi lain, lebih dari 3,5 juta orang mendapat akses internet gratis untuk mencari pekerjaan atau informasi dalam mengembangkan bisnisnya,” paparnya.
Ia mencontohkan, di Gunungkidul ada satu UKM yang mendapatkan manfaat. Yakni, kerajinan batik tulis. Sementara itu, di Kabupaten Tabalong, PerpuSeru mendorong terbentuknya program JIKAMAKA atau Jika Belajar Maka Bisa. Ini bertujuan membantu pemuda putus sekolah dengan menyediakan pelatihan keterampilan komputer, sebagai bekal mencari pekerjaan.
“Program ini awalnya menargetkan peserta 280 orang. Karena antusiasme masyarakat, membuat peserta membengkak menjadi 419 orang,” kata Rizal Halimi, staf Perpustakaan Kabupaten Tabalong.
Selain pengetahuan dan keterampilan komputer, peserta juga mendapat bekal motivasi.
Sofyan Hidayat, salah satu lulusan program JIKAMAKA yang dihadirkan menyatakan, dirinya berani membuka kursus di Kecamatan Halong.
“Bekal awal, saya menyewa lima laptop. Selain itu, juga merekrut 40 peserta dengan dikenakan biaya kursus yang lebih murah,” paparnya.
Perpuseru bertekad menjadikan perpustakaan sebagaiCommunity Learning Centre dan mengajak masyarakat mengoptimalkan penggunaan layanan TI di perpustakaan sebagai media informasi dan komunikasi tanpa batas waktu dan jarak, guna menunjang peningkatan kualitas hidup masyarakat.
“Kami terus bermitra dengan perpustakaan umum dalam mempersiapkan mereka menjadi agen perubahan bagi komunitasnya masing-masing,” kata Ketua Pelaksana Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI), Titie Sadarini.(pra/hes)