Kreativitas dan ketekunannya menjadi kunci utama bagi seorang wirausahawan. Itu pula yang dilakukan Juwariyah dengan menciptakan kue khas yang makin banyak dikenal. Bagaimana perjalanan usahanya?
ZAKKI MUBAROK, Bantul
Sebagai pendatang, tidak lantas membuat Juwariah berkecil hati. Sejak menginjakkan kaki di Bumi Projo Tamansari pada 2010 lalu perempuan kelahiran Purwodadi, Jawa tengah ini tidak ingin bekerja pada orang lain. Dia malah justru mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi sejumlah warga Dusun Geblak, Desa Bantul, Kecamatan Bantul.
Ya, sejak tiga tahun terakhir perempuan kelahiran 37 tahun lalu ini mendirikan usaha pembuatan kue grubiku. “Sejak pindah ke sini langsung buat usaha,” terang Juwariah di rumah kontrakannya yang terletak di Dusun Geblak kemarin (27/2).
Juwariah memilih pembuatan kue grubiku karena beberapa pertimbangan. Antara lain kue ini cocok dengan karakter masyarakat Jogja yang identik dengan makanan yang memiliki cita rasa manis. “Grubiku rasanya manis karena ada campuran gula jawa,” jelasnya.
Selama belasan tahun perempuan berjilbab ini merantau di Jakarta bersama Sugeng Mulyadi, suaminya. Di ibu kota Juwariah berprofesi sebagai tukang pijat. Keinginan pindah terjadi usai suaminya berkunjung ke Bantul pada 2009 silam. Kala itu, suaminya bersama salah satu lembaga melakukan survei di wilayah Bantul.
“Bapak asli Gunungkidul. Tapi Kata bapak tempatnya di sini (Bantul) nyaman, dan cocok untuk dijadikan tempat usaha,” kenangnya.
Sejurus kemudian, pasangan suami-isteri ini pindah. Tidak butuh waktu lama Juwariah merintis usaha kecil-kecilan pembuatan kue di rumah kontrakannya. Dalam kurun waktu tiga tahun kue yang diberi label grubiku ini mampu menembus pasar Jogja. “Pedagang-pedagang pasar ambil di sini. Bahkan, Mirota juga,” sebutnya.
Ibu tujuh anak ini bercerita, dia sengaja melabeli kuenya dengan grubiku. Sebab, grubiku memiliki arti spesial. Yakni, gerakan rakyat untuk bangun Indonesia kuat. Harapannya, usaha pembuatan kue grubiku ini mampu sedikit membantu tingkat perekonomian masyarakat. Selain itu, usaha pembuatan kue ini untuk membuktikan desa masih menjadi sentra pengembangan UMKM.”Ya sambil meneruskan keahlian saya sebagai tukang pijat di sini,” urainya.
Sehari-hari Juwariah dibantu enam tetangga kontrakannya. Bahkan, pada hari-hari tertentu tenaga kerja yang dibutuhkan lebih dari enam orang. Itu terjadi jika mendapatkan pesanan cukup banyak. Biasanya, dalam sehari Juwariah mengolah bahan baku kue grubiku berupa ubi madu dan ubi ungu sebanyak 80 kilogram. “Ada dua kemasan. Yang isi sepuluh biji saya jual Rp 4,500, sedangkan isi 24 seharga Rp 13 ribu,” ulasnya.
Lalu berapa omsetnya perbulan? Juwariah menerangkan, rata-rata omset usahanya selalu di atas angka Rp 35 juta perbulan. “Bahan-bahannya mudah. Hanya ubi dan gula jawa. Ubi kami beli di Pasar Telo, Karangkajen” jelasnya. (*/din)