SLEMAN– Seberat apapun hukuman dikenakan oleh hakim, peredaran minuman beralkohol (mihol) di Sleman tetap ada. Guna mencegah tindakan kriminal akibat pengaruh alkohol saat pelaksanaan kampanye pemilu legislatif, Satpol PP Sleman merazia sejumlah warung kelontong.
Kabid Penertiban dan Ketenteraman Fathoni Budi Prabowo mengatakan, tindak kriminalitas sering dilakukan seseorang yang mengonsumsi mihol. Perilaku pengonsumsi mihol bisa tak terkontrol, hingga melakukan tindak kejahatan. “Pelaku mabuk biasanya los control,” katanya usai razia mihol kemarin (3/3).
Fathoni meyakini, jika sebelum masa kampanye jumlah peredaran mihol diminimalisasi, berbanding lurus dengan dampak negatif yang bisa timbul.
Razia yang digelar setengah itu hari tidak membuahkan hasil optimal. Aparat hanya memperoleh 89 botol mihol. Padahal, biasanya dalam sekali razia bisa diperoleh ratusan botol mihol, bahkan ribuan. Semua barang bukti disita dari toko modern di Kecamatan Turi dan Kecamatan Pakem.
Penertiban mihol berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2007. Toko modern dilarang memperjualbelikan mihol. Hanya rumah makan berlambang talam kencana boleh menjual mihol. Itupun untuk golongan di bawah 5 persen kandungan alkohol. Hotel berbintang atau kafe yang menyatu dengan hotel diperbolehkan jual mihol golongan itu. Hanya bandara yang boleh menjual mihol dengan kadar alkohol sampai 40 persen.
Kendati begitu, aparat juga menyita minuman oplosan tidak bermerek. Selain tidak ada standar kandungan alkoholnya, oplosan cenderung terdiri atas zat-zat beracun. (yog/din)