Mendidik anak berkebutuhan khusus (ABK) bukan perkara mudah. Selain penguasaan ilmu pendidikan luar biasa, juga diperlukan kesabaran dan perhatian ekstra supaya ilmu yang diajarkan benar-benar terserap. Para guru SLB PGRI Sumbersari, Sleman, punya kiat khusus mendidik siswa.
Bahana, Sleman
Matahari berada pada posisi 30 derajat di ufuk timur. Cuaca jelang siang kemarin (3/3) begitu cerah. Saat Radar Jogja menyambangi SLB PGRI Sumbersari, Moyudan, Sleman, beberapa guru dan siswa lelaki sedang berolahraga voli di halaman sekolah.
Sedangkan siswa lainnya sedang belajar menulis dan menggambar di sebuah ruang kelas. Di antara para siswa itu terdapat sedikitnya lima mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi yang saat itu menjadi guru bagi siswa-siswa itu.
SLB PGRI Sumbersari terletak sekitar 15 kilometer dari pusat Kota Jogja. Atau, sekitar dua kilometer dari Museum Suharto yang terletak di Dusun Kemusuk, Bantul.
Terlihat bangunan sekolah yang tepatnya berada di Dusun Gesikan, Sumbersari, Moyudan representatif dan berdiri kokoh. Warna cat putih mendominasi dinding dan bangunan sekolah. Untuk menuju gerbang sekolah yang berjarak 50 meter dari jalan utama terdapat hamparan rumput hijau.
Salah seorang guru sekolah itu, Sri Suhartati, menuturkan, SLB PGRI Sumbersari sudah ada sejak 1984. Tetapi ketika itu sekolahnya masih menjadi satu dengan rumah warga.
“Sekolah ini mengalami pasang surut. Bahkan pernah tidak ada muridnya. Menjadi sebagus seperti sekarang ini prosesnya sangat panjang. Ini berkat pemerintah pusat dan provinsi yang sangat perhatian dengan pendidikan bagi ABK,” jelas perempuan yang akrab disapa Tati tersebut kepada Radar Jogja.
Saat ini SLB PGRI Sumbersari menjadi tempat belajar yang nyaman bagi 34 siswa berkebutuhan khusus. Rinciannya, 28 siswa duduk di jenjang SD, 4 siswa SMP, dan 2 siswa SMA. Di sana terdapat 13 guru.
“Kalau dari segi umur, umur siswa tidak sesuai dengan jenjang pendidikannya,” katanya.
Sekolah tersebut kini memiliki sembilan kelas yang dibagi menjadi ruang guru dan ruang kelas belajar. Di bagian tengah sekolah yang menyerupai huruf “U” tersebut terdapat tanah lapang yang biasa digunakan guru dan siswanya untuk berolahraga.
Siswa yang bersekolah, sebagian besar berasal dari tunagrahita C dan C1. Selain itu terdapat dua orang siswa menderita tunarungu.
Tati menjelaskan, siswa tunagrahita C dan C1 masih bisa didik dan dilatih untuk dapat menyerap pelajaran. Hanya, lanjutnya, kemampuan mereka untuk menangkap ilmu tidak sama seperti siswa normal.
Siswa yang dikategorikan mampu dididik artinya masih bisa dididik. Mereka merupakan anak-anak dengan retardasi mental ringan. Mereka mampu menulis dan terkadang mampu menjawab pertanyaan yang diberikan guru. Hanya, perkembangannya tidak sepesat siswa normal.
“Jika siswa ini disekolahkan di SD normal pasti ketinggalan dari rekan-rekannya. Meski IQ-nya rendah tetapi tetap dapat mengembangkan kemampuan akademiknya,” jelasnya.
Sedangkan siswa yang dikategorkan mampu latih, pembelajaran yang diberikan dengan banyak member latihan. Siswa seperti ini akan kesulitan mengembangkan kemampuan akademik. Maka dari itu, siswa seperti ini harus rutin mengikuti latihan untuk bisa melakukan sesuatu, seperti menulis dan menggambar. Mereka juga dilatih cara makan yang benar, mandi hingga cuci tangan.
Bahkan hasil dari latihan rutin yang dikukan, salah seorang siswa SLB bernama Suhartono, kini sudah bisa membuat batako sendiri untuk dijual. “Memang orang tuanya yang memiliki usaha tersebut, tapi sejak kecil kami terus melatih dia supaya bisa membantu orang tua,” jelasnya.
Diakui Tati, mendidik siswa ABK seperti ini bukan perkara mudah. Perhatian ekstra dan kasih sayang yang besar menjadi “senjata” utama yang harus dimiliki para guru.
Dengan bekal kemampuan pendidikan luar biasa yang pernah dipelajari para guru semasa kuliah, secara metodologi dan keilmuan, mungkin sesuai diaplikasikan. Hanya, bila berhadapan langsung dengan siswa justru pendidikan dari hati lah yang banyak berperan.
“Kalau ada siswa yang tidak mau belajar karena marah-marah dan menangis, pendekatannya kan harus dengan hati,” terangnya.
Mendidik siswa ABK, guru juga harus memberi perhatian dan pengawasan lebih kepada setiap siswa. Untuk melakukan pengawasan ekstra, sampai-sampai pintu gerbang sekolah diberi kunci. Langkah itu dilakukan untuk menghindari siswa keluar saat jam belajar.
Guru lainnya, Maryani, merasa senang bila anak-anak rajin masuk sekolah. Murid SLB Sumbersari, menurutnya, adalah anak-anak yang rajin bersekolah.
“Meski hujan deras anak-anak tetap berangkat. Ada yang sendiri ada juga yang diantarkan orang tua mereka,” katanya.
Perasaan bangga juga ditunjukkan bila anak-anak bisa bersekolah dengan memakai seragam rapi dan berbaris dengan tertib untuk kemudian mengkuti pelajaran.
Selama di kelas, 60 persen murid mendapatkan pembelajaran berupa keterampilan. Sedangkan sisanya belajar yang berhubungan dengan akademik.
Setiap pukul tujuh siswa harus sudah ada di sekolah untuk belajar. Satu jam pelajaran setara dengan 35 menit. Siswa belajar hingga pukul 10.30. Terkadang, ada pula siswa yang belajar hingga pukul 13.30.
Setiap hari, kata Maryani, para guru telaten memberi materi pelajaran kepada siswa. Kegiatan belajar dikatakan berhasil apabila siswa sudah mampu memberi umpan balik dari apa yang diajarkan guru.
“Tantangannya adalah bagaimana kami bisa membuat pembelajaran ini senang bagi mereka. Sehingga besoknya murid mau ke sekolah,” terangnya.
Kiat supaya siswa mau tetap sekolah, jelasnya, pembelajarannya harus menyenangkan. Permainan yang mendidik lebih diperbanyak. Menurutnya, siswa sangat senang bernyanyi dan menggambar. Maka sebelum kegiatan pembelajaran dimulai, siswa terlebih dahulu diajak bernyanyi supaya senang.
Setiap siswa ternyata memiliki guru idola. Siswa yang mengidolakan guru, biasanya suka mendekap dan bermanja-manja dengan gurunya.
Maryani mengatakan, saat siswa dalam mood yang sedang baik akan lebih mudah untuk didik. Namun bila mood sedang buruk, maka akan sangat sulit dikendalikan.
Siswa yang sedang jengkel harus mendapat perhatian ekstra. Jika tidak, siswa itu terkadang mengambil benda apapun untuk dipukulkan ke temannya.
“Kalau ada siswa yang sedang marah, kami selalu membujuk,” katanya.
Ia mencontohkan, masih ada siswa yang sangat sulit disuruh duduk di kursi. Untuk membuat siswa itu bersedia duduk membutuhkan waktu lama.
“Duduk hanya beberapa saat saja. Setelah itu inginnya main dan kadang mengganggu temannya yang lain. Ini yang membuat kami harus ekstra sabar menghadapi mereka,” jelasnya.
Meski saat ini sekolah telah memiliki 34 siswa, para guru berharap, siswa SLB bisa terus bertambah. Maryani berkeyakninan masih ada masyarakat yang enggan menitipkan anaknya di sekolah.
“Kami telah melakukan home visit untuk membujuk orang tua supaya mau menyekolahkan anaknya,” terangnya.
Padahal, menyekolahkan anak-anak mereka yang ABK ke SLB tidak dipungut biaya sepeser pun. Biaya pendidikan sudah ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah.
“Kadang yang kami temukan orang tua masih malu, ada juga yang tidak mau repot mengantarkan anak,” katanya.
Padahal, di SLB Sumbersari ini para guru secara bergilir mendapat tugas mengantarkan murid-muridnya pulang bagi siswa yang letak rumahnya jauh dari sekolah. “Setiap hari kami giliran mengantarkan siswa pulang. Ini bagian dari tanggung jawab kami terhadap orang tuang,” jelasnya. (*/amd)