MUNGKID – Berbagai elemen masyarakat berupaya menghijaukan lereng sebelah barat Merapi. Melalui kegiatan penanaman bibit pohon, relawan dan sejumlah pelajar menanam 10 ribu pohon gayam serta 2 ribu pohon ringin dan pohon buah.
Kegiatan penghijauan tersebut kembali dilaksanakan setelah sempat terhenti, karena hujan abu vulkanis dari Gunung Kelud, beberapa waktu lalu.
Penghijauan diadakan Forum Merapi Merbabu Hijau (FMHH) bersama Lintas Komunitas Relawan dari Kabupaten Magelang dan Jogjakarta. Di antaranya FPRB Sengi, Masyarakat Babadan, Guruh Merapi, Campala, Bandoso, Kompas Gunungpring, Linang Sayang Communication, Lajur Merapi, RYM Humanity Jogja, siswa SMP Santa Maria Sawangan, dan Mahasiswa Poltekes Surakarta. Mereka melakukan penghijauan di Hulu Sungai Tringsing Dusun Babadan 2, Desa Paten, Kecamatan Dukun.
“Setiap kegiatan, kami menyebarkan virus untuk cinta dan melestariakn alam dengan melibatkan anak anak. Memang kepada merekalah, harapan kita ke depan,” tegas Koordinator FMMH Jatmiko, kemarin (4/3).
Menurut Jatmiko, kegiatan penghijauan dilaksanakan setiap dua minggu sekali, diikuti komunitas relawan Merapi. Ia sengaja memilih tanaman utama pohon gayam, karena pohon gayam bagus untuk resapan air. Di samping itu, pohon gayam bagus mengembalikan fungsi hutan yang berada di lereng Merapi.
“Tidak hanya tanaman gayam saja yang ditanam. Beberapa pohon ringin dan pohon buah-buahan,” imbuhnya.
Salah satu relawan, Yoga mengaku bergabung ikut penghijauan di Lereng Merapi dengan alasan kuat.
Relawan dari Linang Sayang Communication ini menilai, kegiatan penambangan di kaki Merapi sudah mengkhawatirkan. Para penambang terkadang tidak memperhatikan kawasan hutan yang ditambang untuk penghijauan.
“Dengan penambangan yang tidak memperhatikan dampaknya ini, upaya penghijauan merupakan cara mengingatkan pada penambang untuk sadar. Mari kita jaga bersama hutan dengan menanam bibit pohon sebanyak-banyaknya,” papar Yoga.(ady/hes)