MAGELANG – Keluarga Besar PDI Perjuangan (PDIP) Kota Magelang mengutuk aksi-aksi kekerasan yang masih terjadi di Kota Magelang. Mereka juga prihatin dengan kejadian pelemparan tiga buah bom molotov ke rumah wartawan Radar Jogja, Frietqi Suryawan, Senin (3/3) lalu. Tokoh PDIP Kota Magelang berharap, aksi kekerasan tidak terulang lagi pada masa datang.
“Berpuluh-puluh tahun, Kota Magelang dikenal sebagai kota yang sejuk, nyaman, dan damai. Tetapi, kenapa sekarang seperti kota preman. Banyak aksi kekerasan yang menimpa warga kota ini. Sayangnya, semua tidak terungkap,” kata Sekretaris DPC PDIP Kota Magelang, Suharyanta, saat berkunjung ke pria yang lebih akrab disapa Demang, kemarin (3/3).
Ia menegaskan, PDIP cinta damai. Karenanya, pengurus PDIP mengutuk keras aksi-aksi kekerasan yang masih saja terjadi di Kota Magelang dan belum diungkap aparat keamanan.
“Termasuk kasus pelemparan bom molotov di rumah ini,” imbuh Suharyanta, yang datang bersama jajaran pengurus lainnya.
Ditambahkan Suharyanta, ia menyesalkan aksi teror tersebut terjadi menjelang perhelatan pemilu legislatif (pileg). Sebenarnya, lanjut Suharyanta, polisi dan pemerintah kota (pemkot) tengah diuji agar menciptakan rasa aman bagi masyarakatnnya. Apalagi pada tahap kampanye nanti, akan lebih banyak gesekan politik yang kemungkinan terjadi.
“Pemkot harusnya bisa mengayomi masyarakat dengan baik. Adanya kejadian ini (teror, Red) menunjukkan kinerja Pemkot tidak maksimal,” kritiknya.
Ia juga menyesalkan kejadian di Kota Magelang yang dikenal sebagai kota militer. Di kota ini, 30 persen masyarakatnya merupakan anggota militer dan kepolisian. Tetapi, kenapa justru ada kasus teror bom molotov yang mengejutkan publik.
“Ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat. Meskipun Kota Magelang hanya memiliki wilayah 18,12 kilometer persegi, ternyata tidak aman dari kasus teror dan intimidasi pada rakyat,” ungkapnya keras.
Sementara itu, Ketua PAC PDIP Magelang Tengah, Roni S, Haryanto yang ikut datang bersama beberapa pengurus ranting dan para calon legislatif (laceg) dari partai berlambang banteng mencereng tersebut mengaku tidak habis pikir dengan kejadian tersebut. Menurutnya, pers merupakan salah satu pilar demokrasi, yang salah satu fungsinya menjalankan kontrol sosial.
Dari situ, Rini berharap polisi segera bisa mengungkap kasus yang meresahkan masyarakat tersebut. Tidak hanya itu, ia meminta aparat bekerja lebih keras agar kejadian erupa tidak terulang lagi.
Lha kalau pers saja hendak diberangus, bagaimana demokrasi berjalan di Magelang. Tolong aparat keamanan bertindak tegas dan tidak usah takut. Bagaimanapun ini juga masalah penegakkan demokrasi di Magelang, bahkan Indonesia,” katanya.
Sementara itu, Ketua Komisi C DPRD Kota Magelang, Joko Mei Budi yang ikut berkunjung mendesak jajaran Polres Magelang Kota segera menangkap pelaku teror molotov. Sebab, tercatat sudah tiga kali kejadian teror terjadi di kota gethuk ini. Ketiga teror yang terjadi, semua luput dari penanganan aparat penegak hukum.
“Ini jadi keprihatinan kita, semua karena pada awal kasus pelemparan bom molotov di salah satu rumah anggota DPRD dan teror granat di tempat hiburan yang sampai kini pelakunya belum tertangkap. Kami harap, tugas kepolisian memberikan rasa . ke depan, kami meminta kinerja mereka dimaksimalkan untuk mengungkap pelaku teror,” kata Joko.
Dalam kesempatan tersebut, korban atau Frietqi Suryawan meminta bantuan PDIP ikut mengamankan diri dan keluarganya dari ancaman teror maupun intimidasi.
“Tugas wartawan berat. Kami minta bantuan PDIP ikut mengamankan kami dan keluarga dari segala teror maupun intimidasi pihak yang tidak menginginkan tegaknya demokrasi di Magelang,” pinta Frietqi.
Suharyanta yang didampingi Komandan Satgas PDIP Lie Anto Saputro berjanji memberi rasa aman. Salah satu caranya, dengan memberi perhatian pada rumah dan keluarga korban.
“Kami akan terus memantau dan melakukan patroli ke rumah njenengan,” janji Lie Anto.(adi/dem)