Bendahara PersibaAkui AdaDana Talangan
JOGJA – Penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) DIJ masih memerlukan keterangan Bendahara Persiba Dahono. Keterangan itu dibutuhkan untuk melengkapi berkas dua tersangka dugaan korupsi dana hibah Persiba. Yakni, Ketua Umum Persiba, HM Idham Samawi (IS) dan mantan Kantor Pemuda dan Olah Raga, Edy Bowo Nurcahyo (EBN).
Dahono diperiksa tim penyidik yang diketuai Pindo Kartikani SH, kemarin (3/3). “Ada beberapa data yang diperoleh penyidik perlu dikonfirmasi kepada Bendahara Persiba, Dahono,” kata Kasi Penerangan dan Hukum (Penkum) Kejati DIJ, Purwanta Sudarmaji SH, kemarin (3/3).
Selain Dahono, penyidik juga kembali memeriksa pemilik perusahaan tour
and travel PT Aulia Trijaya Mandiri, Maryani. Pemeriksaan keduanya dilakukan penyidik di lantai tiga gedung kejati. Dahono diperiksa atas posisinya sebagai Bendahara Persiba I pada musim kompetisi 2010-2011 lalu.
Sedangkan Maryani diperiksa atas kapasitasnya sebagai pemilik tour and
travel yang menjadi rekanan Persiba saat melakukan laga tandang ke luar daerah. “Pemeriksaan keduanya untuk melengkapi berkas tersangka IS dan EBN,” imbuh Purwanta.
Usai memeriksa Dahono dan Maryani, hari ini penyidik berencana memeriksa tersangka Idham. Pemeriksaan Idham merupakan kali ketuju setelah diperiksa sebelumnya pada Jumat (28/2) lalu. “Pemeriksaan lanjutan tersangka IS akan dilanjutkan besok (hari ini),” imbuh Purwanta.
Terpisah, Dahono mengatakan Persiba memang pernah mendapatkan dana talangan dari pihak luar. Ada dari perorangan ada pula dari Bank Pasar Bantul dengan cara menggadaikan Surat Keputusan (SK) PNS Pemkab Bantul. Selanjutnya, dana talangan itu digunakan untuk biaya operasional klub Persiba meliputi gaji pemain dan official. Sebab, saat mengikuti kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia Persiba membutuhkan anggaran cukup besar. “SK saya juga jadi jaminan bank. Satu SK dapat Rp 100 juta tapi yang mengembalikan Persiba karena uang pinjaman untuk Persiba,” terang Dahono.
Berbagai upaya dilakukan manajemen untuk mengembalikan dana talangan tersebut. Selain menggunakan uang asal sponsor, dana talangan dibayar menggunakan dana hibah asal APBD Bantul. Uang asal sponsor yang
digunakan untuk mengembalikan dana talangan mencapai Rp 120 juta sisanya hibah APBD Bantul. “Seingat saya dana talangan Rp 120 juta itu dikembalikan dengan menggunakan uang dari sponsor,” kata Dahono.
Keterangan penggunaan dana hibah yang tidak boleh untuk mengembalikan utang pernah disinggung Idham saat menjadi saksi dalam perkara hibah tembakau virginia di Pengadilan Tipikor Jogja, beberapa waktu lalu. Idham yang diperiksa sebagai saksi untuk perkara terdakwa mantan Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul Edy Suharyanto menegaskan, dana hibah
harus digunakan sesuai peruntukkannya dan terlarang untuk membayar utang atau talangan ke pihak lain. (mar/din)