PURWOREJO – Untuk kedua kalinya, jumenengan Raden Adipati Aryo (RAA) Cokronagoro I ke-183 sebagai bupati pertama Kabupaten Purworejo diperingati, Kamis (27/2). Acara diisi tahlil dan doa bersama dan pementasan tari Cakranegara.
Hadir dalam acara tersebut, Bupati Purworejo Drs H Mahsun Zain MAg yang memimpin peringatan. Dalam kesempatan tersebut, juga diserahkan penghargaan “Bintang Cakranegara” pada empat orang yang dianggap berjasa terrhadap Purworejo.
Ke-4 orang tersebut, HR Oteng Suherman BE (budayawan), Atas Sampurno Danu Subroto (wartawan dan sastrawan), Sucipto Waluyo (pelestari tari dolalak), dan Maibudin bin Salim (juru kunci makam Cokronagoro I).
Penyematan dan penyerahan penghargaan oleh Budi Harjono, mewakili keluarg besar trah Cokronagoro. Seperti peringatan sebelumnya, nuansa Jawa cukup kental. Mereka yang diundang sebagian besar mengenakan pakaian kejawen, sebagian mengenakan batik.
Acara pun menggunakan bahasa Jawa. Tidak lupa disaksikan langsung keluarga besar trah Cokronagoro I, yang tersebar di berbagai kota. Seperti Jogjakarta, Semarang, dan Bandung.
Berdasarkan referensi sejarah, RAA Cokronagoro I sewaktu kecil bernama Reksodiwirya. Beliau lahir Hari Rabu Pahing, pasa tahun Ehe, bertepatan dengan tanggal 17 Mei 1778 M, di Dukuh Bragolan, Desa Jenar, masuk wilayah kekuasan Keraton Surakarta.
Beliau merupakan anak dari pasangan Raden Ayu Singowijoyo dan Raden Ngabehi Singowijoyo, Mantri Gladag Keraton Surakarta.
Sewaktu kecil, Reksodiwiryop nyantri pada Kyai Taftanjani, Solo, bersama RM Ontowiryo. Setelah dewasa, ia mengabdi menggantikan ayahnya di Keraton Surakarta.
Pangkat terakhir sebagai Panewu Gladag. Karena jasa-jasanya, ia diangkat sebagai Bupati Tanggung, dengan gelar Raden Tumenggung Cokrojoyo. Usai perang Diponegoro, 28 Maret 1930, wilayah Bagelen bagian timur menjadi Kabupaten Brengkelan, yang dijabat RT Cokrojoyo.
Kemudian nama Brengkelan diganti nama menjadi Purworejo dan ia bergelar RAA Cokronagoro I. Ia memerintah hingga tahun 1856. Kemudian, digantikan putranya KRAA Cokronagoro II.
Setelah 6 tahun pensiun, tepat 23 September 1862, wafat diusia 83 tahun. Jenazah dimakamkan di astana Bulus Hadipurwo.
Bupati Mahsun mengungkapkan, peringatan tersebut merupakan kegiatan positif, lantaran masyarakat Purworejo hidup dengan fasilitas yang dulu diperjuangkan Cokronagoro. Ia menyatakan, Cokronegara I merupakan tauladan bagi masyarakat Purworejo.
Menurut Mahsun, bangsa yang melupakan sejarah merupakan bangsa yang takabur atau sombong.
“Saya tidak mau masyarakat Purworejo dikatakan bangsa yang sombong. Kita tidak boleh melupakan sejarah. Semua harus mengakui pendahulu,” paparnya.
Ia menegaskan, dirinya tidak membangun, melainkan melanjutkan rintisan Bupati Purworejo 1. Berbagai buah karya fenomental Cokronagoro I, di antaranya rumah dinas dan pendopo bupati Purworejo, Masjid Agung Darul Muttaqin, Jalan Raya Purworejo- Magelang, Alun-alun besar, Bedug Pendowo, dan Saluran Irigasi Kedung Putri.
Pemkab berupaya mengembalikan bangunan di sekitar pendopo ke bentuk aslinya, berdasarkan referensi yang ada. Yang dilakukan, mengganti lantai pendopo dari keramik ke ubin.
“Ke depan, rencananya taman di depan pendopo juga dibongkar, sehingga pendopo terlihat dari depan. Hutan kota akan dibuat di sisi kanan dan kiri pendopo, serta dilengkapi taman yang representatif,” katanya.(tom/hes)