INDONESIA memiliki kekayaan kain tenun. Hampir di semua daerah memiliki kain tenun khasnya masing-masing, demikian halnya di Jogja. Melimpahnya kain tradisional ini memicu para desainer untuk menuangkan ide-ide kreatifnya sebagai bahan rancangan. Selain kualitas bahannya yang tidak kalah dengan bahan modern lainnya. Kain tenun juga memiliki motif yang khas. Keistimewaan inilah yang menarik desainer Eska Dia untuk mengangkat kain tenun pada karya terbarunya.
“Kain tenun mudah sekali didapat, di Jogja juga ada beberapa yang khas. Salah satunya tenun Kulonprogo,” ujar deseiner muda Jogja lulusan Papmi DIJ tahun 2013 ini.
Menurutnya, kekhasan kain tenun Kulonprogo tidak hanya dari motifnya yang dibuat dengan ATBM (alat tenun bukan mesin) saja. “Tetapi juga karakternya yang lemes dan tidak sekaku kain tenun lainnya. Sehingga mudah untuk dirancang sesuai dengan keinginan dengan potongan beragam,” ungkapnya belum lama ini.
Seperti karya yang ditampilkan pada peragaan busana perdana saat Annual Show Papmi DIJ belum lama ini. Kain tenun Kulonprogo dan kain lurik dirancang dengan tampilan casual bagi perempuan dinamis yang membutuhkan kenyamanan berpakaian untuk menunjang aktivitasnya.
“Sayangnya, kain tenun Kulonprogo sudah hampir punah karena sudah tidak ada lagi yang memproduksi. Saya gunakan yang sisa-sisa produksi saja, untuk itu semoga tenun ini dapat terangkat kembali,” ujar desainer kelahiran Jogja, 20 Juli 1988 ini.
Gaya casual yang diangkat dimunculkan dengan potongan asimetris di beberapa bagian, misalnya pada bagian bawah busana atasan. Dengan detail kerah blazer yang juga memperkuat kegunaan busana ini. “Bisa dikenakan sebagai busana kantor sehari-hari,” tuturnya.
Celana sebagai bawahan juga mendominasi koleksinya tersebut. Khusus aksesorinya, Eska juga menggunakan hasil kreasi etnik lainnya, seperti dari kayu dan batu untuk kancing dan kalung. Eska mengatakan warna dari tenun lurik yang beragam namun dinamis memungkinkan koleksinya kali ini dapat dipadupadankan dengan jenis busana lain dengan bahan berbeda.
“Tenun memang khas, dan masih banyak kain tenun yang ingin saya eksplorasi. Baik dalam bentuk ready to wear maupun by order,” ujar Eska yang sedang merintis butik ini. (dya/ila)