BAYAN-Tiga perangkat Desa Sambeng, Kecamatan Bayan Purworejo serempak mengundurkan diri dari jabatannya. Ini dipicu perilaku Kepala Desa (Kades) Sambeng, Fajar Purwadi, yang dinilai arogan dan sewenang-sewenang pada perangkat bawahannya.
Dari informasi yang dihimpun, tiga orang perangkat yang memutuskan mundur dari jabatannya adalah Kepala Dusun (Kadus) Genting Tuwekal, Yuniyanto (Kadus Bambon), serta Kumpul Sugiyarto, Kaur Keuangan (Kepala Urusan Keuangan) Desa Sambeng.
Kumpul Sugiyarto mengatakan, ia memilih jualan durian daripada meneruskan menjadi perangkat. Ia mengaku tidak kuat memangku jabatan tersebut.
Menurutnya, keadaan yang ia rasakan tidak nyaman. Maka, ia memilih mundur tidak lagi menjadi perangkat.
“Sudah saya komunikasikan dengan kepala desa. Secara resmi belum mengajukan surat pengunduran diri,” ungkap Kumpul sembari menunjukkan surat pengunduran diri di rumahnya, kemarin (3/3).
Ia meneruskan, alasan dirinya mundur dari jabatannya sebagai Kaur Keuangan adalah paling tepat. Terlebih, selama menjabat sebagai Kaur Keuangan Desa Sambeng sering bertentangan dengan hati nuraninya.
“Sebagai pemegang kas desa, saya sering disuruh membuat laporan keuangan fiktif dan tidak sesuai kenyataan yang ada. Itu yang paling membuat saya tidak nyaman,” paparnya.
Dikatakan Kumpul, kades dianggap arogan dan cenderung kasar. Bahkan, ia pernah ditantang berkelahi, hanya persoalan sepele. Tentu tantangan itu tidak dilayaninya. Ia takut masalah itu menjadi berkepanjangan.
“Kebetulan anak saya ada yang menjadi anggota tentara. Pak Lurah sampai bilang, sana bilang pada anakmu, kalau kamu tidak berani melawan sendiri. Ini bukan masalah berani atau tidak berani, tapi masalah etika seorang pemimpin yang seharusnya mengayomi bawahannya,” kritiknya.
Menurut Kumpul, arogansi kades sudah menjadi rahasia umum di Desa Sambeng. Banyak juga yang merasakan hal serupa. Bahkan, tidak hanya perangkat. Arogansi juga ditunjukkan masyarakat Sambeng yang di antaranya menjadi ketakutan.
Yuniyanto mengatakan hal senada. Ia memilih mundur, karena banyaknya pekerjaan sebagai kadus di luar jam kerja. Karena itu, pekerjaan di rumah seperti mengurus sawah dan lain, menjadi terbengkelai.
“Pendapatan perangkat berasal yang pokok dari pengolahan lahan bengkok. Kalau setiap hari selalu ada kegiatan kerja bakti bagi perangkat, kapan saya mengurus sawah,” katanya.(tom/hes)