TAK RIMBUN LAGI: Dua mahasiswa Pascasarjana ISI Jogjakarta melakukan aksi teatrikal sebagai bentuk protes penebangan pohon di sekitar Jalan Suryodiningratan.
JOGJA – Sejumlah mahasiswa Pascsarjana ISI Jogjakarta Senin (3/3) siang kembali melakukan aksi teatrikal di sepanjang Jalan Suryodiningratan, Mantrijeron Jogjakarta. Aksi ini sebagai bentuk protes atas penebangan belasan pohon perindang di sepanjang jalan menuju kampus mereka.
Koordinator Aksi Bembi Kusuma mengungkapkan awalnya mahasiswa mengetahui alasan penebangan pohon perindang ini untuk menambah daya listrik. Pengerjaan ini sudah dilakukan sejak bulan Januari lalu dengan merapikan pohon yang di sisi utara, dekat pintu gerbang kampus.
“Tapi hari Minggu (23/2) lalu penebangan dilanjutkan bahkan hingga menghabiskan pohon di sisi barat. Padahal pemasangan instalasi listrik hanya menggunakan sisi timur jalan,” kata Bembi.
Merespon hal ini, sejumlah mahasiswa pascasarjana ISI melakukan aksi teatrikal pada hari Kamis (27/2). Aksi ini diwujudkan dengan memberikan payung kepada empat pohon yang ditebang. Payung ini merupakan bentuk keprihatian para mahasiswa atas tindakan penebangan.
Tidak mendapatkan tanggapan dari pihak kampus, para mahasiswa kembali melakukan aksi teatrikal. Aksi ini dilakukan oleh dua seniman teater dengan berjalan memutari jalan Suryodiningratan. Aksi mereka berlanjut dengan menaruh potongan kayu sepanjang jalan menuju kampus Pascasarjana ISI Jogjakarta.
“Jika benar untuk instalasi listrik kenapa yang ditebang seluruhnya dan hanya menyisakan batang pohon. Saat melakukan konfirmasi ke RT setempat, mereka juga tahu penebangan ini karena dianggap otoritas kampus,” kata Bembi.
Bembi menambahkan dengan adanya aksi ini, para mahasiswa mengharap penjelasan dari pihak kampus. Mereka juga menuntut adanya penghijauan untuk mengganti pohon kiara payung dan sukun yang telah ditebang.
Salah satu warga yang bertempat tinggal di Jalan Suryodinigratan Agustinus Rukijan mengaku kecewa dengan adanya penebangan ini. Diakui oleh Rukijan, penebangan pohon ini tidak nembung dulu ke warga sekitar.
“Kalau pohon yang menanam itu warga dari tahun 1970an, dan saya juga ikut membeli sejak dari bibit. Waktu ditebang, ada perempuan dari kampus datang ke saya dan tanya kenapa ditebang. Saya pun menjawab tidak tahu juga,” kata pria kelahiran 1930 ini.
Sementara itu, Radar Jogja mencoba mengkonfirmasi Bagian Umum Pascasarjana ISI namun diminta untuk menghubungi Asisten Direktur II Endang Mulyaningsih M.Hum. Ketika akan melakukan konfirmasi melalui sambungan telepon yang diberikan Bagian Umum Pascasarjana ISI ternyata tak dapat dihubungi. (dwi/ila)