Akibatkan Pelajar Sering Bertindak Anarkis
JOGJA – Meski Jogja dikenal sebagai kota barometer pendidikan di Indonesia, ternyata persoalan kenakalan remaja masih sering terjadi di Jogja. Tawuran pelajar belum sepenuhnya bisa diselesaikan oleh aparat penegak hukum maupun sekolah.Ketua Dewan Pendidikan DIJ, Prof Wuryadi menilai perilaku anarkis yang melibatkan siswa dipicu beban mengajar guru yang semakin berat. Akibat beban untuk menguasai materi pembelajaran semakin berat, waktu untuk melakukan inovasi dan bersoasialisasi dengan sekolah lain semakin minim. “Dari proses pendidikan yang dialami murid beban pendidikan berlebih. Karena beban yang diberikan tidak sesuai dengan kapasitas murid terjadilah ‘ledakan’. Murid melampiaskan kekesalan dengan tindakan anarkis,” kata Wuryadi kepada Radar Jogja, Selasa (4/3).Wuryadi menjelaskan, saat ini guru ditarget memenuhi 24 jam belajar sebagai salah satu syarat sertifikasi guru. Akibatnya, guru hanya terfokus pada bagaimana cara memenuhi target jam belajar, ketimbang memahami beban psikolgis para siswa.Guru, kata Wuryadi, kini justru lebih banyak dibebankan pada kegiatan administratif ketimbang mengajar. Dengan sistem menilai secara deskriptif, guru kini lebih banyak menilai. “Padahal menilai hasil evaluasi siswa sudah menjadi beban tersendiri,” katanya.Mengatasi hal tersebut, upaya yang dilakukan Dewan Pendidikan DIJ untuk mengurangi beban tersebut dengan melakukan pendampingan terhadap para guru. Bahkan Dewan Pendidikan DIJ mengerahkan program Profesor Goes to School, untuk membantu peningkatan kemampuan akademik guru dan siswa. “Persoalannya kan profesor hanya bisa mengatasi persoalan pada bidang-bidang tertentu,” katanya.Terpisah, mantan Ketua Persatuan Guru RI (PGRI) DIJ, Ahmad Zainal Fanani mengatakan beban mengajar yang diberikan kepada guru tidak profesional. Beban 24 jam mengajar seminggu dapat memengaruhi guru dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. “Efektifnya guru mengajar itu 18 jam pelajaran. Ini supaya ada kesempatan bagi guru untuk mempersiapkan administrasi belajar dan melakukan evaluasi,” jelasnya.Untuk memenuhi jam belajar 24 jam tersebut, terkadang banyak guru yang yang melupakan waktu untuk memgevaluasi hasil belajar murid. “Akibatnya guru menilai hasil siswa di rumah. Seharusnya waktu guru mengevaluasi ini dimasukkan dalam beban mengajar,” katanya.Fanani tidak memungkiri, beban psikologis guru bisa berdampak pada siswa. Akibat murid yang tidak mendapatkan perhatian para guru, sehingga murid mengekspresikan perilakunya kepada hal-hal yang negatif.Salah seorang guru sekolah kejuruan, Wijantoro mengaku tekanan terhadap pemenuhan 24 jam mengajar terasa berat. Menurutnya, banyak aspek yang harus diperhatikan dengan diterapkannya kebijakan kurikulum baru.Sebagai guru komputer, Wijantoro mampu mengajar melebihi target yang ditentukan. “Hanya saja untuk terbiasa, harus ada pelatihan-pelatihan lagi bagi para guru,” terangnya. (bhn/iwa)