GKR Bendara dan KPH Yudanegara benar-benar bahagia. Usai melahirkan secara caesar Sabtu lalu, kemarin Bendara pulang ke rumah orang tuanya di Keraton Kilen. Siapa nama putri mereka?
Heditia Damanik, Jogja
Hujan deras disertai angin turun di luar Paviliun Amarta RSUP Dr Sardjito Jogjakarta kemarin (4/3). Saat itu GKR Bendara muncul menemui awak media pascamelahirkan putri pertama.
Dengan dress berwarna hijau pupus, perempuan bernama kecil GRAj Nurastuti Wijareni tersebut berbagi cerita soal putrinya.
“Namanya Raden Ajeng Nisaka Irdina Yudhanegara,” kata perempuan yang akrab disapa Jeng Reni itu di lobi paviliun. Suaminya, KPH Yudhanegara, mendampingi Reni.
Menurut Yudhanegara, nama putrinya yang lahir Sabtu 1 Maret lalu adalah gabungan sumbangan nama dari ibu dan mertuanya yang tak lain adalah Raja Keraton Jogja Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Nisaka merupakan nama pemberian HB X yang berarti unggulan. Sementara Irdina diberikan oleh ibu dari Ubay -nama panggilan Yudhanegara- yakni Nurbaiti Helmi. Irdina artinya kehormatan.
Sedangkan Yudhanegara adalah nama sang ayah. “Panggilannya Irdi,” kata pria yang bekerja di sekretariat wakil presiden RI itu.
Ubay mengatakan banyak usulan nama yang ditawarkan oleh orang tua mereka. HB X memberikan usulan lima nama. Sedangkan Nurbaiti membuat enam daftar nama yang bisa dipilih.
“Akhirnya setelah kami rembuk berdua (Ubay dan Reni). Kami memutuskan nama itu,” imbuh pria yang tengah mengambil program doktor di Yamaguchi University Jepang itu.
Pria asli Lampung tersebut mengaku sudah belajar mengurus bayi. Kemarin pagi, Ubay mengaku sudah mulai belajar mengganti popok dan menggendong putrinya. Menurutnya, dia dan Reni akan berbagi tugas dalam mengurus bayi.
Ubay menyatakan, istrinya tidak boleh terlalu capai. Alasannya, dia tidak ingin Reni sakit dan penyakit itu berisiko menular pada sang bayi.
“Kita bagi tugaslah. Biar ibunya yang menyusui saja,” tambahnya lantas tersenyum.
Jeng Reni diperbolehkan pulang oleh dokter kemarin setelah melahirkan melalui operasi pada Sabtu lalu. Ia akan kembali ke Keraton Kilen. Selama suaminya belajar di Jepang, Reni tinggal bersama orang tuanya di Keraton Kilen.
Kamar untuk bayi di Keraton Kilen sudah disiapkan. Kamar itu bernuansa kuning dan hijau.
Menurut Reni, operasi caesar yang dilakoninya berjalan lancar. Bayinya memang lahir terlambat. Sedianya hari perkiraan lahir (HPL) adalah 20 Februari.
Namun sang bayi baru lahir delapan hari kemudian. Karena jarak waktu antara HPL dengan kelahiran dinilai terlalu lama akhirnya proses persalinan diputuskan operasi caesar. “Ini udah lama di rumah sakit, sampai betah,” canda Jeng Reni.
Reni mengatakan dalam waktu dekat belum akan ada acara adat yang dilakukan di Keraton dalam rangka kelahiran putrinya. Acara adat akan ada saat bagi pertama kali turun. “Napak niten saja. Dalam waktu dekat ini belum ada,” kata dia.
“Kalau dari saya ada akikahan. Mungkin waktunya akan disamakan,” timpal Ubay.
Reni dan Ubay agak lama bercakap dengan awak media. Tapi, mereka enggan menunjukkan putrinya. Alasannya, mereka khawatir putrinya sakit karena imunnya belum kuat.
Menurut Reni, beberapa hari lalu saat masih banyak tamu yang datang putrinya sempat terserang flu dan demam. “Hari Minggu itu sempat sakit. Jadi, maaf belum bisa diajak keluar,” tandas peraih gelar master bisnis dari salah satu universitas di Inggris itu. (*/amd)