MAGELANG – Teror bom motolov mengganggu keamanan Kota Magelang. Ujung-ujungnya, perekonomian ikut terganggu.
Karenanya, keprihatinan juga disampaikan
Pemilik Hotel Puri Asri Magelang, Darmono. Ia mengaku prihatin atas maraknya pelemparan bom molotov di Kota Magelang dalam setahun terakhir.
Pria keturunan yang sudah tinggal di Kota Magelang puluhan tahun ini mengaku, tidak habis pikir dengan adanya aksi teror tersebut. Padahal, kejadian itu dipastikan mempengaruhi iklim usaha di Kota Magelang.
“Pak Wali mencanangkan pada tahun 2015 mendatang program Ayo ke Magelang. Jangan sampai kemudian tahun depan orang datang ke Magelang hanya melihat bom molotov atau korban teror. Teror menggunakan bom molotov sudah saya alami dua kali, sejak puluhan tahun tinggal di Magelang. Pertama di rumah pengusaha yang juga anggota dewan Pak Eddy Sutrisno dan di rumah ini,” kata Darmono yang juga hadir dalam kegiatan doa bersama, kemarin (4/3).
Pria yag akab disapa Pak Ho ini berharap, jurnalis tidak patah semangat mengabarkan pada masyarakat, berita-berita yang patut disampaikan pada masyarakat.
“Kami sekarang ya bisa belajar dengan membaca atau melihat media. Makanya, saya sempat tanya kepada Demang dan juga wartawan lainnya, kasus ini akan membuat kalian mendelep (tidak berani, Red) atau tetap tegar menjalankan fungsi kontrol,” paparnya.
Hal senada dikemukakan Ketua DPRD Kota Magelang Muh Hasan Suryoyudho. Menurut legislator asal Demokrat ini menegaskan, pers harus kritis memajukan bangsa ini. Teror yang dialami sejumlah wartawan baik di Indonesia maupun negara lain tidak menghentikan idealisme para jurnalis. Mereka harus memberitakan kebenaran dan kepentingan umum, di atas kepentingan pribadi dan golongan.
“Tanpa pers yang kritis, negara ini mau dibawa ke mana. Saya berteman dengan Demang, sejak lama. Saya tahu sifat dan karakternya. Idealisme sebagai seorang jurnalisme, patut dicontoh jurnalisme muda sekarang ini. Jangan pernah menyerah dengan teror seperti ini,” katanya.
Frietqi atau biasa disapa Demang mengaku yang dialaminya tidak melunturkan idealismenya sebagai seorang jurnalis.
“Bagian dari perjalanan hidup yang saya pilih. Iini tidak menghentikan saya. Namun begitu, saya sudah memaafkan pelaku. Tetapi kasus ini tetap harus diungkap,” harapnya.
Menurutnya, kegiatan doa bersama bagian kesadaran pelemparan bom molotov bagian rencana Tuhan menunjukkan kebenaran.
“Bukan musibah. Tetapi rencana Tuhan menunjukkan sebuah kebenaran dan keimanan. kami memilh berdoa, setelah melakukan berbagai usaha secara maksimal. Ini bagian dari kepasrahan menerima rencana tersebut. Kita tinggal menunggu bagaimana Tuhan menunjukkan kuasanya terhadap penyelesaian kasus ini,” katanya.(ady/hes)