Budidaya: Pengembangan Krisan di Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Kulonprogo, masih terkendala serangan hama.
Memengaruhi Kualitas dan Keutuhan Kembang
SAMIGALUH – Petani bunga krisan di Desa Gerbosari, Samigaluh, Kulonprogo terus mengembangkan budidaya bunga tersebut. Tanaman dengan tinggi sekitar 30 centimeter itu dikembangkan melalui kubung dengan luas 100 meter persegi. Sedangkan hasil panen bunga krisan itu biasa dijual ke Kotabaru, Jogja.Salah seorang petani bunga krisan, Sukardi, 59, mengatakan, pengembangan bunga itu bermula saat berlangsung penelitian yang dilakukan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) DIJ pada 2012. Dari situlah, dia berkeinginan mengembangkan bunga yang menjadi ciri khas perbukitan menoreh itu. Dalam sekali panen dengan waktu tiga bulan sekali, pengembangan bunga Krisan bisa dijual ke pedagang bunga.”Awalnya hanya menanam di pot saja. Kemudian saya berkeinginan menanam dalam jumlah banyak. Akhirnya membuat kubung untuk pngembangan yang lebih banyak,” kata Sukardi (4/3).Dalam satu kubung dengan luas 100 meter persegi, bisa memuat sekitar 3.500 sampai 4.000 bibit bunga krisan. Masa tanam dari bibit sampai bisa dipanen memakan waktu selama tiga bulan. Namun, ketika masuk musim panen tidak semuanya utuh sesuai jumlah bibit bunga yang ditanam. Hal itu disebabkan karena serangan hama.Serangan hama itu memengaruhi kualitas dan keutuhan bunga. Apalagi jika hama berjenis ulat itu menggerogoti tanaan, bunga Krisan yang seharusnya mekar dengan sempurna, terdapat bekas serangan hama yang mengurangi keindahan bunga itu.”Serangan hama paling banyak ya ulat. Apalagi kalau sudah menyerang daun, kan jadi lubang-lubang. Bunga hasilnya tidak bagus,” jelasnya.Jika dilihat dari hasil pengembangan bunga yang berwarna kuning dan putih itu, cukup besar keutungannya. Untuk satu tangkai bunga krisan, biasa dijual Rp 800 sampai Rp 1.000. Jika dikalkulasi maka pendapatan dari pengembangan bunga krisan berkisar Rp 700.000 hingga Rp 1 juta. Hasil itu merupakan satu kali panen selama tiga bulan sekali.Adapun pelaku pengembangan bunga krisan di Samigaluh masuk dalam kelompok petani bunga Seruni Menoreh. Sejauh ini ada 25 kubung di Samigaluh. Jumlah itu tersebar di beberapa dusun.Di rumah Sukardi terdapat tiga kubung. Satu kubung sudah terlihat mekar bunganya, sedangkan dua kubung lagi baru tahap penanaman bibit bunga. Kendala terbesar yang menghambat pertumbuhan bunga krisan ada pada serangan hama ulat, meski tanaman telah ditutupi menggunakan kain tipis.”Kalau tidak ada serangan ulat, jumlah panen tidak berkurang ketika bibit ditanam,” kata Suyatilah, 59, istri Sukardi. (fid/iwa)