JOGJA – Fotografi memiliki arti yang luas. Selain bisa menjadi media belajar bersama dan berfungsi sebagai dokumentasi visual, juga sebagai bentuk kreasi karya seni foto. Itulah yang jadi semangat bersama Pewarta Foto Indonesia (PFI) Jogjakarta dan warga kampung Kotagede dalam pameran bertajuk Jogja Berhenti Nyaman. Bertempat di Pendopo Ndalem Sopingen, Kotagede, pameran ini digelar 4 hingga 8 Maret 2014.
Ketua PFI Jogjakarta Pamungkas WS menyatakan foto-foto yang ditampilkan dalam pameran ini memang banyak merekam aneka peristiwa bertema sosial, ekonomi, politik, dan olahraga. Juga sejumlah essay foto yang menafsir ulang Jogjakarta di masa kini.
Pamungkas mengungkapkan salah satu tema foto yang kita angkat yaitu essay foto tentang bangunan heritage di Kotagede yang perlu dapat perhatian bersama. “Kebetulan teman-teman di Kotagede mengapresiasi pameran kita di Bentara Budaya akhir tahun 2013. Lalu meminta untuk bisa pameran keliling ke Kotagede,” katanya Selasa (4/3) malam di sela pembukaan pameran di Ndalem Sopingen.
Lokasi pameran ini cukup unik, memanfaatkan tiga titik lokasi yaitu di pendopo nDalem Sopingen dan sekitar Prenggan Kotagede. Layout foto-foto ditata sedemikian rupa tanpa mengurangi fungsi pendapa sebagai tempat terbuka.
“Pembukaan dilakukan dengan memotong tumpeng dan hiburan musik keroncong itu dihadiri juga oleh sejumlah pelaku seni seperti Djaduk Ferianto dan kawan-kawan,” ungkapnya.
Melalui pameran gotong royong yang didukung sejumlah pihak seperti HS Silver, Narti Silver, Ansor’s Silver, Omah Dhuwur Restaurant dan Salim Silver ini juga sebagai upaya bersama mempromosikan Kotagede yang kini terus berbenah. Pamungkas menyatakan lewat pameran foto di Kotagede ini, ada nilai positif yaitu apresiasi warga untuk bersama-sama membangun kembali Jogja.
“Inisiatif warga positif, fotografi tidak dipahami sebagai dokumentasi. Fotografi bisa jadi alat untuk refleksi bersama warga. Foto juga bisa jadi sarana pertemuan ide, ruang berkumpul dan berdiskusi untuk bangun ruang hidup di perkotaan dengan lebih baik,” katanya.
Ketua Penyelenggara Zunan Arief mengungkapkan karya yang disajikan bisa menjadi media kritik sosial bersama. Menurutnya karya tidak hanya mengkritik pemerintah namun juga masyarakat. Maka dari itu dengan adanya pameran ini diharapkan bisa meninbulkan kesadaran bersama. “Pameran ini menyajikan 115 karya foto dari 21 wartawan foto se-Jogjakarta,” ungkapnya.(dwi/ila)