JOGJA – Tidak hanya perumahan, apartemen atau kondotel yang menjadi tren properti di DIJ saat ini. Rumah toko (ruko) dan rumah kantor (rukan) juga berkembang pesat. Di DIJ properti komersial seperti ruko ini banyak terdapat di wilayah Kota Jogja dan Kabupaten Sleman. Meskipun begitu, sama halnya dengan properti lain, juga terkendala dengan harga tanah.
Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) DIJ Remigius Edy Waluyo mengatakan untuk penentuan lokasi ruko ini berbeda dengan properti lain. Menurutnya ruko memerlukan nilai strategis yang sangat dibutuhkan.
“Faktor lokasi sangat menentukan untuk menawarkan ruko, karena ada tujuan bisnis. Maka nya memang kebanyakan dibangun di wilayah Kota Jogja dan Kabupaten Sleman,” ujar Remigius kemarin (5/3).
Remi, sapaannya, mengungkapkan tingkat pertumbuhan investasi properti khususunya ruko ini terus berkembang. Bahkan dalam setahun, kenaikan harganya rata-rata bisa diatas 10 persen. Hal itu disebabkan daya beli masyarakat terhadap properti setiap tahunnya yang meningkat. Selain itu, banyaknya peminat ruko dan rukan juga menjadi indikasi yang menunjukkan minat berbisnis di Jogja meningkat.
Tetapi, ungkap Remi, pengembangan ruko di wilayah Jogja cenderung lebih lambat dibandingkan yang berada di wilayah perbatasan. Seperti deretan ruko yang terletak di Ring Road Utara yang memang diproyeksikan menjadi kawasan bisnis baru. “Untuk di pusat kota cenderung stagnan, mengingat lahannya juga terbatas,” ungkapnya.
Remi mengungkapkan salah satu kesulitan yang dialami oleh para pengembang di DIJ karena harga tanah yang sudah tidak wajar. Terlebih, jelas Remi, untuk ruko memerlukan lokasi strategis yang harga tanahnya tinggi. Kenaikan harga tanah ini disinyalir karena ulah para spekulan tanah. Menurutnya tanah memegang kontribusi terbesar dalam pembangunan properti. “Spekulan ini jangan hanya didiamkan saja karena sudah merusak harga,” tuturnya. (pra/ila)