KESENIAN: Muhammad Edy Suyanto menunjukkan topeng rambak buto di rumahnya, kemarin.
Rampak Galuh Jati, Kelompok Kesenian yang Mandiri
Berawal dari kisahnya melihat beberapa pemuda yang lihai membuat asbak berbahan kayu, Muhammad Edy Suyanto, 33, memiliki ide mengembangkan bakat pemuda itu ke seni kerajinan kriya. Dengan keahlian yang dimilikinya, Edy mampu menjadi motor pemuda di desanya untuk membuat topeng rambak buto.
ALI MUFID, Samigaluh
TERLETAK di Dusun Clumprit, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Edy mulai mengembangkan bakat pemuda dalam satu kelompok seni yang diberi nama Rampak Galuh Jati (RGJ). Disitu, ada sekitar 75 pelaku seni, seperti penari jatilan, dan barongan. Nah, untuk menunjang sarana di setiap pentas, Edy kemudian mengasah skill pelaku seni itu untuk fokus membuat topeng. “Yang ahli di bidang kriya kayu ada 10 orang. Akhirnya dikembangkan, secara perlahan mereka bisa membuat topeng buto dengan imajinasinya masing-masing,” kata Edy kepada Radar Jogja belum lama ini.Pria kelahiran Magelang ini, secara perlahan bisa memproduksi topeng buto untuk menunjang sarana sanggar seninya. Selain itu, ia juga kerap menerima pesanan topeng buto. Untuk harga per topengnya, ia menjual minimal Rp 350 ribu. Harga bisa semakin mahal jika tekstur topeng memiliki ukiran rumit. Sedangkan pasaran, biasa ia jual ke Jawa Tengah, Lampung, bahkan ke Kalimantan.Dalam proses pembuatan topeng rambak buto, biasanya bisa selesai sampai tiga minggu. Terkadang bisa lebih cepat pembuatannya, jika permintaan desain topeng tidak terlalu rumit. Bahkan, beberapa pemuda yang ikut di sanggarnya, membuat topeng buto dengan waktu satu malam. “Waktu itu saya ulang tahun. Nah, teman-teman lalu membuat topeng untuk saya. Waktunya satu malam sudah selesai,” ujar bapak dua anak ini.Untuk menunjang sarana kelompok sanggarnya, ia tak berkeinginan membeli topeng. Sebab, selain ingin mengembangkan bakat para pemuda di desanya, bahan baku untuk membuat topeng juga tersedia cukup melimpah. Mulai dari kayu pule sebagai bahan dasar, sampai asesoris topeng yang berbahan dasar rambut kuda putih atau ekor sapi. “Biasanya kalau topeng pakai rambut kuda putih, harga topengnya juga mahal,” kata dia.Untuk mendapatkan bahan dasar rambut kuda putih, ia sering mengambilnya di Bantul atau Muntilan. Sedangkan untuk kayu pule, diambil di beberapa area pemakaman. Kayu pule memiliki sifat yang alot, namun jika sudah kering sangat ringan. Apalagi seratnya padat sehingga memudahkan untuk dipahat. “Bahan dasarnya tersedia banyak. Jadi kami membuat sendiri saja agar bakat seni kriya semakin meningkat,” kata Edy.Salah satu pemahat topeng rambak buto, Doni Harjanto, 26, mengatakan, teknis pemahatan bisa berkembang dengan sendirinya. Semakin banyak membuat topeng, imajinasi dan teknik memahatnya juga meningkat. Sejauh ini tidak ada kendala dalam membentuk tekstur pahatan di bahan dasar kayu pule. “Paling ya alatnya kadang masih pinjam teman. Untuk pemahatannya, tidak ada masalah,” kata dia. (*/iwa)