MAGELANG –Pembangunan Pasar Rejowinangun selesai akhir 2013. Bahkan Februari lalu, pedagang sudah melakukan doa bersama, menandai ngeslupi masuk pasar yang terbakar 26 Juni 2008.
Kenyataannya, pedagang yang berjualan di Pasar Penampungan dan sekitar Keplekan, enggan masuk pasar yang baru.
Keengganan pedagang karena ada beberapa persoalan yang melingkupi pasar yang dibangun melalui investasi, APBD, maupun APBN tersebut. Di antaranya, pedagang yang dulu menempati Kios PJKA, tidak kuat membayar pembelian kios ke investor. Nasib mereka masih digantung dan belum mendapat kepastian penempatannya.
“Saya dan puluhan pedagang eks Kios PJKA yang tidak kuat membeli kios milik investor seharga Rp 150 juta hingga kini nasibnya belum jelas. Pemkot jelas tidak akan memberi kami tempat di kios lagi. Mereka akan menjualnya ke orang umum seharga Rp 240 juta. Jadi kami tidak tahu akan ditempatkan di sebelah mana nantinya. Makanya, kami masih berjualan di sini,” ungkap Heni, pedagang makanan kecil di Pasar Penampungan, kemarin (6/3).
Perempuan yang berdagang di Blok B Pasar Penampungan ini mengaku tidak mampu menebus kios ke investor. Apalagi harganya cukup tinggi.
“Dari harga Rp 150 juta, kami disuruh membayar tanda jadi Rp 2,5 juta. Kemudian, uang muka Rp 40 juta. Sisanya, kami disuruh hutang ke bank. Lha untuk mencari uang muka Rp 40 juta saja sulit, kok masih memikirkan hutang yang Rp 110 juta. Wis ra nyandak pikirku mas,” ungkap perempuan yang tinggal di Kampung Keplekan, Kelurahan Rejowinangun Selatan ini.
Beda lagi permasalahan yang dihadapi para pedagang yang ada di Blok D. Mereka yang kebanyakan berjualan pakaian merasa ada persoalan menyangkut sekat.
“Teman-teman kan belum pindah. Ya kami juga belum pindah. Kalaupun pindah, penyekatan los kami juga belum jadi,” ungkap Ari, pedagang Blok D.
Hal senada diungkapkan Nurul, juga pedagang pakaian. Ia mengaku belum tahu kapan akan pindah ke Pasar Rejowinangun. Karena teman-temannya masih banyak di Pasar Penampungan.
Lha kalau pindah, masak sendirian. Suasana pasar di sana (Rejowinangun, Red) ya belum jelas. Pembeli belum mau ke sana. Kami tetap di sini saja,” katanya.
Pada 25 Pebruari 2014, puluhan pedagang melaksanakan tasyakuran menandai proses ngeslupi Pasar Rejowinangun yang selesai dibangun dengan investasi Rp 29 miliar dan dari APBD Pemkot Magelang sebesar Rp 64 miliar. Saat tasyarakuran, Wali Kota Sigit Widyonindito menegaskan, untuk penempatan di pasar baru tersebut, seluruh pedagang tidak dipungut biaya alias gratis.
Kenyataannya, pedagang yang menempati los saat akan masuk ke los diharuskan membuat sekat, yang melibatkan pihak ketiga. Adapun beban yang harus ditanggung sebesar Rp 5 juta. Sedangkan pedagang yang menempati kios masih terbebani biaya yang lebih besar lagi mencapai Rp 150 juta untuk membayar harga kios.(dem/hes)