SLEMAN – Sebagai seorang bapak pendiri bangsa (founding father) Soekarno memiliki peran yang besar dalam sejarah Indonesia. Soekarno juga memiliki rekam jejak kecintaannya terhadap dunia seni. Ini tertuang dalam buku karya Mikke Susanto yang berjudul Bung Karno Kolektor dan Patron Seni Rupa Indonesia.
Bertempat di Gedung Lengkung Pascasarjana UGM (6/3), Mikke menggelar diskusi isi dari buku ini. Selain Mikke turut hadir pula Antropolog DR Kono P Simatupang dan Sejarawan JJ Rizal. Dialog-dialog yang tersaji mampu membuka sosok lain Soekarno yang selama ini belum diketahui masyarakat.
“Bisa dibilang beliau (Soekarno) tidak hanya seorang pecinta namun sudah menjadi patron seni. Ini karena perannya yang sangat besar dalam melindungi dan memberikan pengaruh dukungan untuk kemajuan seni pada waktu itu,” kata Mikke.
Menurut Mikke, Soekarno mewarisi darah seni ibunya yang berasal dari Bali. Ini dibuktikan dari keahlian Soekarno dalam mencetak sebuah karya dalam wujud lukisan. Bahkan dalam tulisan Mikke disinggung pula kecintaan Soekarno terhadap seni yang mampu mendekatkan diri dengan banyak seniman.
Bahkan bentuk kecintaan Soekarno terhadap seni diwujudkan dengan membukukan koleksinya kedalam buku sebanyak lima jilid. Selain itu koleksi karya seni Soekarno juga turut menghiasi beberapa dinding Istana Kepresidenan.
“Dulu setiap ada acara kenegaraan, Soekarno selalu memajang koleksinya di Istana Kepresidenan. Beliau mengubah tampilan Istana layaknya sebuah galeri seni. Bahkan tak sungkan untuk berkunjung ke studio-studio dan mengajak diskusi para seniman,” kata Mikke.
Sementara itu, Sejarawa JJ Rizal menilai Soekarno adalah sosok pemimpin yang memiliki tipe Seniman-Politikus. Kecintaannya terhadap seni membuat cara pandangnya dalam berpolitik sangat luwes dan tegas. Bahkan menurutnya pola pandang Soekarno bisa dibilang unik sehingga mampu mengubah tatanan lingkungan sosial.
Contoh kecil peran seni Soekarno adalah dalam membangun tata kota Jakarta. Beberapa buah pemikirannya, menurut JJ Rizal, terwujud dalam patung-patung raksasa yang menghiasi ibu kota. Tidak hanya sekadar patung namun memiliki nilai seni arsitektur yang tinggi.
Jakarta sendiri baru sebuah titik awal, namun sayangnya pemerintahan Soekarno sangatlah singkat. Soekarno melewati masa ini dengan rumit dan berisiko demi memberi wujud pada Indonesia yang baru dimerdekakannya via tata kota Jakarta. “Bangunan-bangunan ini sekarang bisa ditonton sebagai suatu pedagogical text, sehingga memberi inspirasi pada pembangunan jiwa rakyat Indonesia,” kata JJ Rizal.
Buku karya Mikke ini merupakan hasil karya penelitian tesis S2 dirinya. Terdiri dari empat bab yang menjelaskan mengenai munculnya kesadaran artistik dan estetik Soekarno. Hal ini dilakukan melalui penelusuran terhadap latar belakang kehidupan Soekarno terutama yang berkaitan dengan seni. (dwi/ila)