RABOSOTO, ini bukan nama robot terbaru dengan teknologi yang mutakhir. Namun sebuah movement atau gerakan yang digagas anak-anak muda Jogja dari beragam latar belakang untuk mengulik lebih dalam soal soto. Bukan hanya bertemu dan makan bareng, tapi juga mengapresiasi dengan cara mengangkat aneka jenis soto mulai dari tempat, resep hingga kisah dibaliknya.
Berawal dari kegemaran makan soto, seusai melahap makanan berkuah ini di setiap hari Rabu, Juragan Soto atau Penggagas Rabosoto A Noor Arief selalu membuat (hashtag) #rabosoto di Twitter. Lama kelamaan, banyak yang tertarik dan membuat hashtag yang sama. Dari situlah muncul gagasan untuk membawa Rabosoto menjadi wadah bagi siapapun yang menggemari soto dan makan bersama.
“Dengan Rabosoto ini sudah yang kesembilan minggu kita keliling,” ujar Bakul Soto atau Public Relations Rabosoto Samsul Arifin atau yang biasa disapa Cucul disela-sela makan bareng di Soto Pak Ngadiran, Rabu (5/3) lalu.
Dirinya mengatakan Rabosoto bukan ajang promosi tempat soto atau tempat jualan soto. Namun wadah bagi siapapun yang tidak hanya sekadar ingin makan soto bareng tapi juga mengapresiasinya. Mengingat soto merupakan hasil dari sebuah mahakarya, yakni resep. Dimana dari resep soto yang selalu diracik dan disajikan mampu menarik pecinta kuliner untuk melahapnya. “Bahkan membuatnya bertahan hingga puluhan tahun. Tentunya informasi itu didapatkan langsung dari si pemilik tempat soto,” ungkapnya.
Kisah-kisah mulai dari resep hingga bagaimana si pemilik tempat soto mampu eksis sekian tahun inilah yang nantinya akan dibuat menjadi sebuah pustaka soto. Nantinya pustaka soto ini akan diwujudkan dalam sebuah buku.
“Kita ingin mengajak teman-teman untuk lebih kenal soto, tidak cuma makan tapi mengenal apa yang mereka makan,” ujar Cucul.
Gerobak Soto atau Koordinator Jadwal Rabosoto Novi Andri Hanabi menambahkan hingga minggu ke sembilan, rata-rata ada 30-an peserta yang selalu ikut meramaikan Rabosoto. Menurutnya beberapa dari mereka ada yang memang penggemar soto. Ada juga yang merasa penasaran. Karena soto sendiri memiliki cita rasa beragam, dan masing-masing orang memiliki selera yang berbeda.
Dalam menentukan tempat soto yang dituju pertama memperhatikan lokasinya, kira-kira kapasitasnya mampu menampung sekitar 30-an orang atau tidak. Setelah itu pertimbangan jenis dan rasa atau kisah dari tempat soto itu sendiri.
“Kadang dari kota lain juga ada yang ikutan makan soto di kotanya, dan mereka sharing info lewat hashtag rabosoto,” cerita Novi.
Rabosoto sendiri sudah mengantungi sekitar 47 tempat soto di Jogja berdasarkan lokasi, jenis, rasa, cerita dan keunikan. Karena tidak dipungkiri, ada beberapa tempat soto yang memiliki kisah unik sendiri. Misalnya saja Soto Sampah. Tempat soto yang buka hanya di malam hari di kawasan Kranggan, Jogja ini dijuluki sebagai soto sampah karena peraciknya yang tidak menata isian mangkok soto seperti pada umumnya peracik soto lainnya.
“Bentuknya yang semrawut yang membuat soto itu dijuluki Soto Sampah, sotonya juga disajikan dengan piring bukan mangkuk,” ujarnya.
Novi mengatakan beragamnya jenis soto yang ada di masing-masing daerah juga memiliki ciri khas sendiri. Semisal semua tempat soto di Jogja sudah dikunjungi, tidak ada salahnya mulai memperluas rute dengan mendatangi tempat-tempat soto di kota lainnya. Karena soto sendiri merupakan jenis makanan yang citarasanya paling banyak. Hampir di semua kota punya soto dengan cirikhasnya sendiri. (dya/ila)