JOGJA – Gubernur DIJ Hamengku Buwono X ingin pembahasan kawasan keselamatan operasional penerbangan (KKOP) di lokasi calon bandar udara di Kulonprogo segera tuntas. Dia meminta kesepakatan terkait hal itu yang melibatkan PT Angkasa Pura (AP) dan PT Jogja Magasa Iron (JMI) dapat rampung bulan ini.
Menurutnya, sudah empat kali terjadi dialog antara manajemen kedua perusahaan tersebut. Namun hingga kini belum ada hasil yang bisa dijadikan pegangan.
“Kalau (AP dan JMI) setuju, saya inginnya ada MoU (memorandum of understanding/nota kesepahaman). Karena itu harus bisa jadi kebijakan. Kalau omong-omongan aja ya tidak selesai,” kata HB X saat ditemui di Kepatihan Pemprov DIJ kemarin (6/3).
Disampaikan dia, MoU diharapkan bisa selesai Maret ini. Sebab, pada April nanti JMI sudah harus melaksanakan ground breaking atau pemancangan tiang pembangunan pabrik bijih besi.
“Kalau lewat dari situ ya nanti jaraknya tidak bisa diubah lagi,” kata pria yang telah menjadi gubenur DIJ sejak 1998 tersebut.
Dua hari lalu gubernur bertemu dengan manajemen AP di Jakarta. Pertemuan itu untuk membicarakan kesulitan yang dihadapi perusahaan pelat merah tersebut dalam proses realisasi bandara pengganti Bandara Adisutjipto di Sleman.
Minggu depan, HB X menyatakan, bakal bertemu dengan komisaris JMI untuk mendengarkan hal yang sama. Dia menegaskan siap menjembatani kepentingan kedua perusahaan tersebut.
Sebab, dia ingin dua proyek besar tersebut bisa berjalan berdampingan. “Nanti akan saya inventarisasi. Begitu ketemu titik temunya, kedua pihak akan saya pertemukan,” jelas alumnus Fakultas Hukum UGM tersebut.
Seperti diketahui, manajemen AP dan JMI sedang bernegosiasi mengenai KKOP untuk bandara baru. JMI akan membangun pabrik yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari landasan bandara. Padahal persyarakat KKOP menyatakan jarak minimal 3 kilometer.
Namun, beberapa waktu lalu manajemen JMI mengaku siap untuk memundurkan pabrik ke timur sejauh 3 kilometer. Kata HB X, pabrik JMI harus mundur karena partikel yang dikeluarkan dari cerobong pabrik potensial mengancam penerbangan. Terlebih, panas tungku pembakaran dalam pabrik mencapai 1.750 celcius.
“Kemarin ketemu dengan Angkasa Pura hanya membicarakan persoalan teknis saja. Di antaranya (pabrik JMI) mundur tiga kilometer dan runway bandara bisa 3.600 meter,” tambahnya.
Di sisi lain, kemarin HB X menerima kunjungan Duta Besar Inggris untuk Indonesia Marc Canning. Dalam kesempatan tersebut, gubernur juga menawarkan investasi untuk penunjang di kompleks bandara baru.
“Masih baru penjajakan saja,” katanya usai mengantarkan Marc keluar dari Gedung Wilis, tempat pertemuan.
Marc menyampaikan, investasi utama untuk proyek pembangunan bandara ini dipegang oleh perusahaan dari India. Namun, lanjutnya, pembangunan bandara adalah urusan yang cukup kompleks.
“Tidak hanya infrastruktur. Misalnya terkait dengan lalu lintas udara. Ada perusahaan Inggris yang terlibat di bidang itu seperti yang saat ini dilakukan di Bandara Soekarno-Hatta,” terang Marc.
Selain itu, kata Marc, mereka juga membicarakan tentang kemungkinan pemerintah Inggris berinvestasi di DIJ dalam bidang lain. Menurutnya, Inggris merupakan negara terbesar yang berinvestasi di Indonesia. Investasi mencakup bidang energi hingga perbankan.
“Akan kita jajaki jika ada kerja sama yang bisa dilakukan di daerah ini,” tambahnya.
HB X dan Marc juga membicarakan soal pendidikan. Di antaranya, program beasiswa untuk anak muda Indonesia. (hed/amd)