Apa yang dilakukan Sundayi, 51, warga Jambean Sriwedari, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang bisa jadi inspirasi. Hanya berjualan es degan di Jalan A Yani Purworejo, ia mampu menguliahkan anak-anaknya. Kegigihan Sundayi menjadi bukti, pintu rejeki terbuka dari mana-aman. Kuncinya, bagaimana memaksimalkan kreativitas dan jeli membaca peluang usaha.
HENDRI UTOMO, Purworejo
PANAS terik matahari merupakan waktu yang ditunggu Sundayi, mendulang rejeki. Pekan lalu (6/3), koran ini tak sengaja menyambangi gerobag kaki limanya di Jalan A Yani Purworejo, persis di sebelah timur Hotel Bagelan.
Dengan keramahan, Sundayi telaten melayani pembeli. Sikap itu ditanamnya sejak 10 tahun lalu, saat mengawali usaha. Usianya yang menyentuh setengah abad nyaris tidak terlihat. Geraknya cekatan, saat menyajikan es degan.
Tidak hanya itu, tangannya terlihat kokoh mengayunkan golok, membelah kelapa muda yang banyak dicari sebagai obat dahaga.
“Sudah biasa mas. Jadi, tidak ada kesulitan membelah buah kelapa muda. Kecuali, kalau memanjat pohonnya, saya tidak bisa,” sloroh Ibu empat anak ini.
Sundayi meneruskan, berjualan es dilakoninya saat kondisi ekonomi keluarga terpuruk, pascasuaminya Suprapto, 54, gulung tikar sebagai pengusaha kayu. Ia bangkit dari kondisi tersebut. Muncul semangatnya membantu sang suami dengan berjualan es degan.
“Kebetulan kami memiliki pohon kelapa lumayan banyak di rumah. Waktu itu kami berpikir, kalau mengandalkan hasil berjualan buah kelapa, hasilnya tidak seberapa. Terlebih harga kelapa tidak tentu, kadang mahal kandang murah,” ungkapnya.
Berjualan es degan hasil kebun sendiri cukup menyenangkan. Merintis dari sedikit, lama-lama usahanya berkembang. Kesegaran es degan miliknya cepat tersebar dari mulut ke mulut. Sedikit-demi sedikit, pelanggan berdatangan. Es degan buatannya mendapat posisi sebagai penghasilan utama keluarga.
“Pertama berjualan saya hanya menghabiskan 10 – 20 butir buah kepala muda sehari. Kini, rata-rata saya bisa jual 100 buah per hari. Pertama menggunakan sepeda motor mengangkut dagangan dari Magelang ke Purworejo. Alhamdulillah, kini menggunakan mobil,” katanya.
Sundayi menjelaskan, keuntungan yang didapat dari setiap buah sebesar Rp 3 ribu. Artinya, sehari mampu memperoleh keuntungan Rp 300 ribu. Hasil kotor itu dipotong biaya operasional, sehingga laba bersihnya mencapai Rp 100 ribu – Rp 150 ribu sekali berjualan.
“Berjualan es degan didukung musim. Jualan laris manis, jika cuaca panas. Saat bulan puasa, bisa berjualan 200 butir buah kelapa,” jelasnya.
Berkat kegigihannya, ia mampu menyekolahkan dua anaknya hingga perguruan tinggi. Keduanya, Arif Sugiyono SPd dan Wiji Astuti SPd. Baik Arif maupun Wiji sudah mengajar di daerah Salaman Magelang. Setiap ada kesempatan, anak pertamanya ikut membantu.
“Pendidikan kami rendah, namun tidak ingin anak-anak kami nasibnya seperti kami. Bagi kami, pendidikan penting untuk masa depan mereka,” ucapnya.
Usaha Sundayi terus berkembang. Untuk mencukupi pasokan buah kelapa muda, ia mengontrak 150 batang pohon milik tetangganya di Salaman Magelang.
“Saya memiliki 150 batang pohon kelapa. Berhubung kebutuhan semakin banyak, saya mengontrak pohon milik tetangga. Kadang kalau ada yang mau ngirim kelapa muda, kami terima saat kekurangan degan,” imbuhnya.
kebanyakan, pelanggan yang datang dari berbagai kalangan. Mulai PNS, pegawai swasta, karyawan, mahasiswa, hingga anak sekolah.
Dalam melayani konsumen, Sundayi menyediakan berbagai pilihan rasa es degan racikannya.satu mangkuk, ia menjual dengan harga Rp 3 ribu. Jika ada yang memesan untuk dibawa pulang, satu buah utuh dijual Rp 5 ribu. Sedangkan untuk kelapa hijau wulungyang sabutnya berwarna ungu, ia membandrol dengan harga Rp 7.500. Kelapa jenis itu dijual lebih mahal dari degan umumnya. Lantaran sulit mencarinya. Degan jenis ini juga berhasiat menyembuhkan berbagai penyakit dalam sehingga banyak yang mencari.(*/hes)