Puluhan perupa Jogjakarta punya cara sendiri untuk mengungkapkan selamat atas lahirnya cucu dari Raja Keraton Jogja Sri Sultan Hamengku Buwono X, Raden Ajeng Nisaka Irdina Yudanegara. Merayakan kelahiran putri dari pasangan Gusti Kanjeng Ratu Bendara dan Kanjeng Pangeran Hario Yudanegara, mereka melukis bersama.
Dwi Agus, Jogja
Halaman XT Square tampak semarak. Sejumlah becak tampak terparkir. Sejumlah kanvas media melukis juga dibentang di sejumlah titik.Itu merupakan bagian dari melukis bersama yang melibatkan tiga puluh perupa di Jogjakarta. Mereka melukis dengan tema yang sama. Yakni, mangayubagya lahirnya cucu HB X.Direktur Operasional dan Pemasaran XT Square Widihasto Wasana Putra menyatakan, melukis bersama ini merupakan bentuk spontanitas. Para seniman, menurut dia, langsung berkumpul bersama untuk merespons kabar gembira tersebut. “Formatnya mengumpulkan 30 seniman seni rupa lintas generasi. Berbagai media dipilih untuk mengapresiasi kabar gembira ini baik sketsa, kanvas, atau becak. Persiapan ini sudah dilakukan para seniman sejak kelahiran wayah dalem pada 1 Maret lalu,” kata Hasto.Melukis bersama ini mengangkat tema Born (kelahiran). Setiap seniman dibebaskan menginterpretasikan tema yang ditentukan itu.Aksi melukis bersama ini melibatkan tiga generasi. Pertama adalah siswa Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR). Lantas ada mahasiswa Seni Murni ISI Jogjakarta. Ada pula seniman seni rupa senior.Koordinator Program Art X-tion Wm Hendrix mengatakan, setiap seniman bebas melukis. Media yang digunakan pun tidak ditentukan.Hendrix menjelaskan, siswa SMSR melukis dengan sketsa. Mahaiswa ISI melukis dalam kanvas. Sedangkan pelukis senior melukis di tepong becak. “Sebenaranya yang berminat untuk berpartisipasi dalam acara ini lebih dari 30 seniman. Tapi kita batasi untuk menghidupkan tema yang diusung. Untuk interpretasi memang bebas, tetap berpatokan dari tema tentang kelahiran,” kata Hendrix.Aksi melukis bersama yang dimulai sejak pukul 13.00 ini juga turut melibatkan Paguyuban Pengemudi Becak Jogjakarta. Para tukang becak merelakan tepong becak yang mereka kemudikan dicoret-coret para pelukis.Perwakilan Paguyuban Pengemudi Becak Jogjakarta Jiyono menegaskan, aksi ini merupakan bentuk kebahagian atas lahirnya cucu dari HB X. menurutnya, ada sepuluh tukang becak yang berpartisipasi.Mereka reka tidak bekerja atau narik hari itu. Bahkan, mereka telah dilapisi tepong becak dengan cat berwarna putih agar memudahkan para seniman melukis. “Kita sebagai rakyat kecil sangat bahagia dan turut senang. Inilah wujud kita dalam merayakan. Becak dianggap sudah menjadi bagian dari kultur seni budaya di Jogjakarta. Satu hal yang kiranya membuat kota ini menjadi sangat istimewa,” kata Jiyono.Karya para seniman ini rencananya dipamerkan di Gedung Umar Kayam XT Square. Hasto menambahkan, pameran ini sekaligus untuk untuk membuktikan Jogjakarta merupakan kota yang kental seni dan budaya. “Pastinya XT Square akan turut melesetarikan seni dan budaya Jogjakarta. Aksi melukis ini juga wujud mengingatkan kita atas dawuh swargi Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwana IX bahwa becak dan andong harus terus dijaga keberadaannya di bumi Jogjakarta,” kata Hasto. (*/dwi)