Mulyono mungkin sau di antara banyak seniman multitalenta desa yang tak terdengar gaungnya. Tak hanya bisa menari, melukis, dan mengukir. Dia juga membuat peralatan pelengkap seni sendiri.
YOGI ISTI PUJIAJI, Seyegan
Warga Tegalgentan, Margoagung, Seyegan itu sehari-hari hidup sebagai petani. Mengolah sawah dan ladang menjadi aktivitas sehari-hari Mulyono. Tetapi siapa sangka jika pria paruh baya itu ternyata memiliki kesibukan lain membuat gamelan. “Ini hanya sampingan. Terutama kalau ada pesanan,” ungkap Mulyono membuka percakapan dengan Radar Jogja di rumahnya akhir pekan lalu.
Saat itu Mulyono sedang memoles kuda kepang dengan cat warna hitam. Ya, Mulyono memang tidak hanya mahir membuat alat musik untuk mengiringi tari-tarian. Dia juga piawai membuat pernak pernik, seperti anyaman kuda kepang. Semua dikerjakannya sendirian.
Di workshop sederhana miliknya, Mulyono memajang gong, gangsa, lukisan, kayu ukir, wayang kulit dan kardus, serta seperangkat sarana tari jathilan.
Sambil memainkan kuasnya, Mulyono menjelaskan detil karya-karyanya itu.
Kuda kepang digarapnya antara satu hingga dua bulan untuk 8-10 (1 set) anyaman. Tiap paket dihargai Rp 300 ribu. “Kalau ini kadang-kadang saja. Saya kerjakan siang malam,” ujarnya.
Soal bahan, Mulyono tak kesulitan. Hanya butuh bambu, cat, dan tali tambang, serta paku. “Dibilang profesi, sebenarnya nggak juga. Tapi kulino sejak saya kecil,” lanjut pria kelahiran 1965.
Mengukir wayang berbahan kulit atau karton pun Mulyono sanggup. Semua pesanan tokoh pewayangan dia layani. Mulyono juga menyiapkan kanvas berbagai ukuran untuk melukis apapun. Tiap lukisan dipatok Rp 150 ribu – Rp 200 ribu.
Dia juga menerima pesanan gamelan. Gong dan gangsa adalah produk andalannya. Untuk membuat alat musik pentatonik itu Mulyono tidak sembarangan. Semua alat memiliki nada. “Ada malnya. Saya pakai gender untuk menyesuaikan nada,” jelasnya.
Satu unit gangsa dihargai Rp 1,75 juta. Itu tergantung kualitas bahan, khususnya baja atau besi.Prinsipnya, asal nilai pesanan cukup untuk beli bahan, Mulyono selalu siap menerima pesanan konsumen.
Bagi Mulyono, semua pekerjaan seni dikerjakannya sebatas mengisi waktu luang saat tak ke sawah. Tapi, pesanan selalu datang silih berganti.
Kendati begitu, tidak jarang Mulyono mangkal di tepi jalan raya untuk menjajakan hasil karya seninya. Namun, untuk eksistensi, Mulyono mengaku kesulitan modal, sehingga karya yang dijajakan dibuat sebatas sisa dari bahan pesanan pelanggan.
Untuk mengerjakan semua karyanya ak cukup hanya pengalaman dan pakulinan. Mulyono juga sempat mengenyam sekolah di sanggar-sanggar kesenian tari dan karawitan. Untuk bisa mengukir dan melukis, Mulyono juga pernah belajar di sentra ukir-ukiran di Jepara. Sedangkan kemampuan membuat anyam-anyaman bambu, Mulyono mengaku memperoleh ilmu dari orang tuanya.
Mulyono berprinsip tidak sekadar bisa menari atau menggamel. Tapi juga membuat semua sarananya sendiri. Terbukti, hasilnya cukup lumayan. “Kalau laku, ya, memang lumayan,” ungkap Mulyono yang tiap hari selalu ada garapan karya seni ini.(*/din)