DWI AGUS, JOGJA
Senin sore (10/3) di salah satu sudut jalan tepatnya Samirono Baru No 1 puluhan kendaraan terlihat menjejali area parkir. Rupanya hari itu grup musik Kotak sedang menyapa para Kerabat Kotak sekaligus perkenalan album baru mereka, Never Dies.
Di tengah persiapan menyambut para Kerabat Kotak, sang gitaris Cella pun menyempatkan diri bercerita tentang album baru. Mengenakan kaos tanpa lengan dan celana pendek gitaris berkepala plontos ini cerita banyak tentang album Never Dies. Menurutnya, dalam album terbaru ini banyak kisah perjuangan dan juga semangat baru.
“Mau dari mana dulu nih, kisah untuk album Never Dies ini sangat panjang. Baik secara materi musik, para sahabat yang membantu dan juga sistem distribusinya,” kata cowok yang lahir di Banyuwangi 15 Maret 1983 ini.
Sepinya penjualan fisik album musisi Indonesia diakui Cella menjadi kendala tersendiri. Bersama Tantri, Chua dan juga tim manajemen Kotak, Cella pun memutar otak mencari strategi baru. Melalui perdebatan yang panjang dipilihlah sistem distribusi album melalui jaringan clothing store.
Jaringan clothing store dipilih oleh Kotak karena memiliki jaringan yang luas. Selain itu dengan menggandeng clothing store, segmen pembeli dan pendengarnya akan lebih pas. Untuk clothing store , Cella memilih Harmonic Rock Cloth yang memiliki kantor pusat di Jogjakarta.
Dengan adanya sistem distribusi ini, harapannya bisa menjadi jalan terang bagi industri musik Indonesia. Meski memiliki karya yang spektakuler, namun diakui Cella untuk urusan penghargaan sebuah karya, musisi Indonesia masih dipandang sebelah mata.
“Sekarang banyak kasus toko-toko kaset dan CD yang menjual album para musisi sudah tutup. Padahal para musisi sangat mengandalkan penjualan album selain panggung musik. Album bagi kami para musisi adalah sebuah karya seni tentunya, dan toko kaset dan CD adalah sahabat kami,” kata Cella.
Jalan terang pun muncul sejak Kotak menerapkan sistem distribusi ini. Meski album Never Dies belum didistribusikan secara resmi, untuk saat ini penjualannya sudah mencapai angka 3.000 keping. Padahal menurut Cella album ini baru didistribusikan tiga hari yang lalu (7/3) ke 125 titik clothing store di Indonesia.
Untuk sistem penjualan album baru ini, Cella pun menjelaskan dengan gamblang. Setiap pembelian produk Harmonic Rock Cloth, akan mendapatkan satu paket album Never Dies. Ini pun berlaku kelipatan jika membeli lebih dari satu produk clothing store tersebut.
“Ini merupakan sebuah jalan terang bagi teman-teman musisi agar karya mereka tetap bisa didengar. Untuk album terbaru inipun hanya bisa dibeli di clothing store yang ada produk Harmonic Rock Cloth. Jika mengandalkan pihak terkait pastinya akan lama, lebih baik bertindak lebih awal untuk menyelamatkan industri musik Indonesia,” kata Cella.
Jogjakarta menurut Cella pun memiliki kenangan dan kisah yang terlupakan dalam bermusik. Sebagai seorang gitaris, ternyata Cella juga mengidolakan sesepuh gitaris Jogjakarta, Erros Chandra. Gitaris grup music Sheila On 7 ini diakui olehnya memiliki kemampuan yang mumpuni.
Bahkan dalam bermusik Cella pun turut terinspirasi dari gaya bermusik gitaris bertubuh cemgkring ini. Di album terbaru ini, Cella pun turut menggandeng Erros untuk berkolaborasi. Kolaborasi inipun semakin lengkap dengan hadirnya sosok Payu Burman gitari band BIP.
“Saya sangat mengagumi kedua gitaris ini, apalagi Erros yang memiliki talenta hebat. Bisa berkolaborasi bersama mereka pun merupakan pengalaman yang membanggakan. Kami berkolaborasi dalam lagu yang berjudul Bobrok yang bercerita tentang keadaan sistem negara,” kata Cella.
Di mata Cella, Jogjakarta memiliki inspirasi yang tinggi. Salah satu lagu di album Never Dies inipun tercipta di Jogjakarta. Lagu yang berjudul Satu Indonesia bagi Cella adalah sebuah lagu yang sangat spesial. Lagu ini menggambarkan kewajiban warga Indonesia bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia.
Dalam lagu ini Cella ingin menceritakan sebuah kebiasaan salah yang kerap menghiasi kehidupan berkewarganegaraan di Indonesia. Menurut Cella saat ini masih ada yang bangga namun masih dalam wujud semu. Contoh kecil menurutnya adalah bangga terhadap seni dan budaya yang dimiliki oleh Indonesia.
Beberapa kejadian pun menginspirasi teciptanya lagu Satu Indonesia ini. Beberapa waktu lalu saat Malaysia mengklaim budaya Indonesia pun menjadi inspirasi dalam lagu ini. Budaya yang harusnya dipertahankan dan dilestarikan pun baru bergaung ketika ada Negara tetangga yang mengklaim.
“Inilah yang salah dan harus diluruskan, Indonesia itu kaya dan kita harus bangga tapi jangan semu. Wujudnya dengan mencintai seni dan budaya yang dimiliki, tidak hanya marah saat diklaim. Setelah itu tidak ada tindakan lagi untuk benar-benar bangga menjadi Indonesia,” kata Cella.
Lebih lanjut untuk album Never Dies memiliki kisah sendiri bagi Kotak. Album inipun secara keseluruhan menceritakan perjalanan mereka bersama Kerabat Kotak. Sepuluh tahun bagi Kotak pun bukan waktu yang singkat dalam bermusik. Kesetiaan Kerabat Kotak dalam mendukung sangat menginspirasi lagu-lagu dalam album ini.
Cella pun selalu merinding di setiap konser Kotak di berbagai kota di Indonesia. Selalu datang dalam jumlah ribuan, para Kerabat Kotak tampil total bahkan dengan membawa bendera raksasa. Inilah yang menjadi inspirasi pembuatan sampul depan album Never Dies.
“Ini adalah doa buat kita dan bendera Kotak akan selalu berkibar. Bagaimanapun juga saat industri music mulai lesu, tapi para Kerabat Kotak selalu hadir buat kami. Tidak hanya di Jogjakarta, namun kota lain juga memiliki cerita yang berbeda-beda,” kata Cella. (*/din)