MAGELANG – Secara bergantian, para pedagang yang ada di Pasar Penampungan Magersari pindah ke Pasar Rejowinangun. Perpindahan ini seiring imbauan Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) Kota Magelang yang meminta pada 12 Maret 2014, semua pedagang lesehan sudah ada di pasar yang telah dibangun lagi.
Proses kepindahan mereka diwarnai pembongkaran lapak oleh pedagang, disaksikan petugas Satpol PP.
“Pedagang daging dan sayuran harus pindah hari ini. Ini sesuai surat dari pemerintah,” kata Mei, 44, pedagang perabotan rumah tangga saat ditemui di Pasar Penampungan Magersari, kemarin (12/3).
Perempuan berjilbab ini mengaku mayoritas pedagang menggunakan jasa orang lain membongkar lapak tersebut. Ini menyusul adanya surat edaran Nomor 005/142/260 tertanggal 7 Maret 2014 yang ditandatangani Kepala DPP Kota Magelang, Isa Ashari.
Dalam surat ditegaskan, pedagang lesehan harus pindah ke Pasar Rejowinangun untuk menghuni los khusus lesehan, maksimal hari Rabu (12/3).
“Hari ini (kemarin, Red) memang yang lesehan sudah harus pindah. Sayangnya, untuk pindah ke Pasar Rejowinangun bagi yang sudah punya los, masih menunggu pembuatan sekat jadi,” papar pedagang perempuan asal Tidar Selatan, Magelang Selatan.
Meski pembongkaran lapak dilakukan pedagang sendiri dengan melibatkan tukang kayu yang ahli, ternyata tetap membutuhkan waktu cukup lama. Petugas Satpol PP didampingi petugas dari Polsek Magelang Selatan maupun DPP ikut mengawasi pembongkaran. Bahkan, petugas menutup akses masuk ke Pasar Penampungan agar pembongkaran lebih lancar dan tidak terganggu lalu lintas.
“Tadi Satpol PP minta agar kayu papan tidak diambil pedagang. Soalnya, itu milik pemerintah. Sedangkan yang boleh dibawa pedagang hanya kayu kecil saja,” imbuh Wisnu, 40, tukang kayu yang diminta pedagang membongkar lapak.
Sebelumnya, Kabag Humas Santel Setda Kota Magelang, Sutomo Hariyanto menjelaskan, pemkot sudah melakukan sosialisasi pada pedagang untuk berpindah ke Pasar Rejowinangun. Ia mengaku selama ini pemkot tidak melakukan paksaan pada para pedagang agar lekas berpindah.
“Tidak memaksa kok. Mereka (pedagang, Red) tetap diberi toleransi. Hanya, harapan kami karena pasar (Pasar Rejowinangun, Red) sudah jadi, ya supaya cepat ramai,” tegasnya.
Sutomo meneruskan, pembongkaran lapak pedagang sayuran dan daging dilakukan pedagang sendiri. Pemkot hanya mengawal, agar kegiatan berjalan lancar.(dem/hes)