Merawat puluhan anak yang dibuang, termasuk yang cacat bukan perkara mudah. Tetapi itu sudah dilakukan Ciptaningsih Utaryo lewat Yayasan Sayap Ibu, sejak 1960-an. Meskipun begitu, masih banyak hal yang akan diperjuangkannya.
Heru Pratomo, Jogja
Puluhan peserta, yang mayoritas kaum hawa memenuhi ruang Kranggan Ibis Styles Hotel Jogja, Rabu (12/3). Mereka menyimak pengalaman dan perjalanan Bu Taryo dalam membangun Panti Asuhan Sayap Ibu, hingga meraih penghargaan HB IX dari UGM, sebagai wanita yang menginspirasi di bidang sosial.
Bu Taryo yang siang itu mengenakan jilbab cokelat itu pun menceritakan berbagai kisah dan pengalamanya selama berada di Panti Asuhan Sayap Ibu. Termasuk kisahnya dengan Putri Herlina, gadis tanpa tangan yang dinikahi oleh Reza. “Putri dulu saya bawa dari (RS) Bethesda, kasihan saat itu dia hanya diletakan di bok, maka saya bawa ke Sayap Ibu,” terangnya.
Bu Taryo sendiri mengaku tidak menyangka jika kemudian Putri bisa tumbuh layaknya gadis biasa, hingga akhirnya dinikahi oleh Reza. Diakuinya sempat ada rasa deg-degan ketika akan bertemu dengan besan, tetapi ternyata kedua orang tua Reza juga bisa menerima Putri. “Sebagai orangtua tentu bahagia perasaanya,” jelas dia.
Selain Putri, banyak pula kasus serupa yang diterima Panti Asuhan Sayap Ibu. Dia mengisahkan pernah mendapati bayi yang hanya seberat enam ons yang dibuang. Juga pernah menerima bayi yang dibuang di bak sampah di Pasar Kranggan Jogja, yang bagian matanya sudah dikerubungi semut. Bahkan bayi yang dibuang di puncak Candi Borobudur,yang dibiarkan terpapar sinar matahari. “Sekarang anaknya sudah lulus SMA, kulitnya juga putih mulus padahal dulu katanya kulitnya agak belang-belang,” kisahnya.
Di Jogja, terdapat dua Panti Asuhan Sayap Ibu, yaitu di Pringwulung untuk anak-anak yang telantar dan anak temuan yang tidak diketahui orang tuanya. Juga ada Panti Penyantunan dan Rehabilitasi anak cacat ganda telantar dan tidak ada walinya di Kalasan. Selain itu, juga mendirikan Wisma Ibu yang diperuntukkan bagi perlindungan janin, program sebelum lahir.
Bu Taryo mengungkapkan Wisma Ibu ini hadir untuk melindungi ibu dan janin, menghindarkan dari aborsi. Menurut dia banyak kasus hamil di luar nikah membuat sang ibu kadang harus mengorbankan janinnya karena harus melanjutkan sekolah.
Di Wisma Ibu, jelas dia, utnuk menyelamatkan ibu supaya bisa tetap sekolah tapi janinnya juga selamat. “Sesuai dengan hak anak untuk bisa hidup, non diskriminasi, dilindungi, tumbuh kembang dan juga didengar pendapatnya sesuai dengan konvensi PBB,” ujarnya.
Untuk itu, selain itu dia juga mendirikan lembaga perlindungan anak (LPA). Maksud kehadiran LPA ini, terang dia, untuk melindungi korban dan juga pelaku yang masih anak-anak. Dia berharap dengan LPA ini, kasus yang menimpa anak tidak perlu sampai ke Kepolisian. “Kalau sudah sampai Polisi kan yang dilindungi biasanya hanya korban saja,” tuturnya.
Diakuinya untuk menjalankan semua itu memang berat. Dia mencontohkan, untuk operasional di Panti saja, setiap bulannya membutuhkan dana hingga Rp 120 juta, sementara bantuan dari pemerintah hanya Rp 3 juta. Meski begitu, dia tidak ragau-ragu dalam merawat.
Jika ada anak yang sakit hingga harus dirawat di RS pun, dia meminta tidak dimasukan ke kelas tiga. Minimal kelas dua, kalau tidak VIP. Bahkan jika harus dirujuk ke luar kota, akan dilakukannya.
“Nekat saja, nanti Tuhan yang ngatur,” ujarnya.
Benar saja. Banyak donatur yang selalu membantunya. Saat ini, jelas dia, ada kerjasama dengan empat yayasan di Belanda dan masing-masing satu di Australia dan Denmark. Untuk operasi yang membutuhkan biaya besar pun juga ada yang menanggung. Bahkan tim dokter yang melakukan operasi pernah ada yang mengembalikan biaya operasi. “Eyang, duitnya buat beli kalung ya,” ujar Bu Taryo menirukan anak asuhnya.
Dia juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli dengan anak-anak yang cacat. Dia juga mnegajak untuk mengunjungi Panti Asuhan Sayap Ibu di Kalasan yang merawat anak-anak cacat ganda.
“Kami akan bisa bersyukur bisa beraktifitas normal, di sana ada anak yang untuk tiduran saja kesulitan,” ujarnya.
Di usia tuanya, Bu Taryo masih punya banyak harapan yang terus diperjuangkannya. Salah satunya memperjuangkan pengakuan atas huruf braile. Saat ini di Indonesia, hanya baru mengakui huruf latin dan arab saja. Padahal braile, jelas dia, juga penting untuk bacaan tuna netra. “Di indonesia ini sudah ada yag bergelar Phd meski buta,” ungkapnya. (*/din)